Penjelasan Apa Itu Trailing Stop Loss, Dan Bagaimana Cara Melakukannya

Belakangan ini banyak yang berpendapat untuk menggunakan trailing stop loss daripada menggunakan cut lossmaka dari itu dalam artikel ini akan dibahas mengenai apa itu trailing stop loss, dan bagaimana cara melakukannya. Selain itu akan dibahas juga kelebihan serta kelemahan dari trailing stop loss sendiri.

Mengenai Apa Itu Trailing Stop Loss, Dan Bagaimana Cara Melakukannya

Trailing Stop Loss (TSL) merupakan sebuah jenis order yang memungkinkan untuk menentukan nilai atau persentase kerugian maksimum di dalam transaksi saham. Jika harga saham naik sesuai dengan ekspektasi, maka batas TSL juga akan ikut naik. Namun, jika harga saham menurun di luar ekspektasi, batas TSL tidak akan berubah.

  1. Pengertian Trailing Stop Loss 

Menurut Investopedia, trailing stop loss atau TSL merupakan suatu sistem dimana pihak broker atau sekuritas akan secara otomatis menjual saham yang dipegang seorang investor, yaitu jika sang investor sebelumnya telah memasukkan perintah untuk menjual saham tersebut jika harganya turun beberapa persen.

Contoh, jika dibeli sebuah saham A di harga 1.000 dan TSL-nya ditetapkan di level 10%, lalu jika saham A langsung turun dari harga 1.000 hingga menyentuh 900 (turun 10%), otomatis pihak broker akan menjual cut loss. Sementara jika saham A naik terlebih dulu hingga 1.200, namun kemudian balik arah hingga turun sampai 1.080 (turun 10% dari 1.200), maka sahamnya otomatis akan dijual juga, tetapi kali ini dalam posisi profit dikarenakan tadi modalnya 1.000.

Dari contoh di atas dapat diketahui, bahwa trailing stop loss bertujuan untuk membantu trader dalam mengambil untung dan melindungi trader dari kerugian yang lebih besar. Trailing stop loss juga membatasi risiko kerugian, namun tidak membatasi potensi profit yang akan diperoleh apabila pergerakan harga saham terus naik sesuai ekspektasi.

  1. Cara Melakukan Trailing Stop Loss 

Terdapat dua cara melakukan trailing stop loss yang bisa dipilih oleh trader saham, yaitu:

  • Mengeksekusi sendiri trailing stop loss
  • Memasang trailing stop loss secara otomatis pada aplikasi trading saham

Untuk mengeksekusi secara manual TSL, yang harus dilakukan adalah menyiapkan jurnal trading dan memantau pergerakan saham harian. Catat harga beli saham dan batas TSL di jurnal, ikutilah pergerakan harga pada bursa, lalu langsung jual saham saat TSL telah tercapai. Pilihan ini membutuhkan kedisiplinan diri yang tinggi. Jika tidak yakin untuk disiplin, baiknya menggunakan TSL yang otomatis.

Sejumlah aplikasi trading saham mempunyai fitur TSL otomatis, sehingga trader tidak lagi perlu memperhatikan fluktuasi bursa terus menerus. Aplikasi akan segera mengirimkan order jual saham setelah batas TSL tercapai. Kita juga dapat mengubah batas TSL dan jangka waktu berlakunya.

Namun, tidak semua sekuritas di Indonesia menyediakan fitur TSL secara otomatis. Ada juga sekuritas yang tidak menyediakan layanan TSL langsung, tapi memungkinkan eksekusi TSL melalui fitur auto-order.

Berkonsultasilah dengan layanan konsumen (customer service) atau melalui manajer akun (account manager) pada perusahaan sekuritasmu untuk mengetahui apakah aplikasinya menyediakan layanan TSL, serta bagaimana cara memasangnya.

Hal-hal Yang Perlu Diperhatikan Oleh Trader Terhadap Trailing Stop Loss

Bagaimanapun, penggunaan TSL ini tentu saja ada kelemahannya. Dalam banyak kasus, TSL bukannya membantu investor untuk stop loss, malah membuat loss taking.

Menurut pakar saham Teguh Hidayat, saat sebuah saham turun secara signifikan sebanyak sekian persen, hal tersebut biasanya merupakan awal dari penurunan yang lebih lanjut. Sehingga, TSL ini membantu investor untuk membatasi kerugian yang terjadi. Tetapi, sering juga terjadinya suatu saham yang hanya turun sebentar, lalu akan naik.

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, trailing stop loss dapat membantu mengunci keuntungan yang telah didapat secara otomatis. Namun, ada beberapa kelemahan trailing stop loss secara otomatis yang perlu diperhatikan oleh trader sahamKelemahan-kelemahan tersebut adalah:

  1. Order jual yang dikirimkan oleh trailing stop lossbisa jadi di atas atau di bawah batas trailing stop loss 

Terdapat ketentuan tentang fraksi harga di dalam mekanisme perdagangan pada Bursa Efek Indonesia, sehingga order jual yang dikirim oleh TSL mungkin di atas atau bahkan di bawah TSL (tidak sama persis). Ketentuan dari fraksi harga ini mengatur maksimum perubahan harga per golongan saham, contohnya saham-saham berharga Rp 200 sampai Rp 500 mempunyai fraksi Rp 2 dan maksimum perubahannya Rp 20.

  1. Membuat kita cut lossterlalu dini

Trailing stop loss bisa jadi malah membuat kita cut loss terlalu dini, seringkali sebuah saham hanya turun sejenak kemudian akan naik lagi. Misalnya, skenario TSL saham ASII di atas, kemudian trader akan menghadapi cut loss pada level Rp 5.400, apabila harga awal saham turun dulu dari Rp 6.000 ke Rp 5.400 sebelum berbalik naik ke arah Rp 7.000.

  1. Tidak cocok diterapkan pada semua saham

TSL tidak cocok bila diterapkan untuk semua saham. Pakar saham Teguh Hidayat berpendapat, bahwa trailing stop loss sesuai bagi saham-saham dari industri yang bersifat siklikal, namun menilai TSL tidak cocok bagi saham yang mempunyai kinerja bagus dan konsisten dalam jangka yang panjang. Ini merupakan kelompok saham yang umumnya hanya akan turun jika pasarnya sedang turun dan jika ada rumor negatif tertentu terkait perusahaan.

Dan jika hal itu terjadi, sedangkan secara fundamental tidak ada masalah kinerja laporan keuangan perusahaan, maka hal tersebut merupakan kesempatan untuk membeli lagi sahamnya atau paling tidak di hold saja. Karena saat pasar naik kembali, biasanya itu tidak akan membutuhkan waktu yang lama, maka sahamnya akan kembali naik.

  1. Diterapkan ketika saham sedang bullish

TSL akan tepat bila diterapkan ketika saham-saham sedang bullish, bukan ketika saham-saham sedang bearish atau terkoreksi. Karena ketika kondisi pasar dalam keadaan naik, maka saham apapun yang dipegang biasanya juga akan naik banyak. Namun, jika pasar balik arah dan turun, maka saham tadi dapat turun sekalian, terutama apabila memang valuasinya sudah mahal.

Disamping itu, jika memasang TSL saat kondisi pasar sedang terkoreksi atau turun secara signifikan dibandingkan dengan beberapa waktu sebelumnya, maka hal tersebut mungkin akan membuat kondisi dimana trader membeli saham murah, lalu menjualnya pada harga yang lebih murah lagi yang artinya loss taking.

Setelah mengetahui apa itu Trailing Stop Loss, dan bagaimana cara melakukannya, serta kelebihan dan kelemahannya, apakah akan tetap mempraktekkannya? Ada baiknya coba terapkan TSL secara manual terlebih dahulu untuk menentukan berapa persentase TSL yang tepat, jika sudah barulah manfaatkan layanan TSL otomatis pada aplikasi trading saham. Untuk alternatif lain, bisa tetap menerapkan TSL manual dalam strategi trading, karena TSL manual relatif lebih aman dibandingkan dengan TSL otomatis yang berisiko cut loss terlalu dini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *