Hal-hal Yang Harus Kamu Pahami Mengenai Technical Correction

Ada beberapa pengertian koreksi yang ada di dunia pasar saham, salah satunya pengertian technical correction. Technical correction dapat terjadi saat harga mengalami overinflasi di dalam tren bullish atau ketika harga sedang mengalami aksi jual yang ekstrem. Technical correction bisa dengan mudah dikacaukan bersama potensi pembalikan. Dengan begitu, sangat penting bagi trader untuk dapat membedakan perbedaan antara koreksi versus reversal breakout. 

Terdapat banyak faktor pasar luas yang dapat mempengaruhi nilai efek yang penting untuk diikuti, berhubungan dengan efek untuk mengidentifikasi koreksi. Beberapa studi dan pola juga telah diperkenalkan agar dapat membantu trader membedakan Techincal Correction.

Pengertian Technical Correction

Technical Correction merupakan suatu penurunan harga pasar sebuah aset atau seluruh pasar setelah adanya kenaikan harga yang ekstensif. Technical Correction bahkan terjadi saat tidak ada bukti bahwa tren kenaikan harga harus dihentikan. Biasanya koreksi merupakan perubahan 10% atau bisa lebih dari puncak tinggi atau rendah, akan tetapi trader bisa menggunakan berbagai tingkat persentase.

Technical Correction juga biasanya disebabkan ketika investor sementara memperlambat pembelian surat berharga mereka, yang akan mengarah kepada kemunduran menuju level Resistance atau Support masing-masing.

Pertimbangan Technical Correction Makro

Ada berbagai indikator makro umum yang andal dan penting untuk diikuti, saat analisis technical bergantung pada pola grafik keamanan untuk sinyal perdagangan. Teori yang diperkenalkan pada tahun 1890-an yang menyediakan beberapa dasar untuk diidentifikasi technical correction adalah teori dow.

Teori ini juga menunjukkan bahwa meskipun pasar mengalami volatilitas perdagangan dikarenakan proses pembuatan pasar yang tertanam yang memfasilitasi eksekusi, biasanya harga keamanan akan mengikuti beberapa tren. Akibat dari keyakinan ini menyebabkan meluasnya penggunaan saluran envelope dan khususnya Bollinger Bands yang digunakan untuk menciptakan resistance dan support garis tren di sekitar pola candlestick.

Saluran envelope sendiri merupakan salah satu pertimbangan makro yang paling populer untuk mengidentifikasikan dan memahami koreksi. Jika efek mengalami suatu perubahan signifikan dari arah tren tanpa dampak dari garis resistance atau support, umumnya trader akan melihat faktor makro agar dapat mengonfirmasi bahwa perubahan tersebut adalah koreksi.

Salah satu faktor makro terbesar bisa dibilang adalah volume. Koreksi umumnya akan terjadi dengan volume yang rendah dan menunjukkan bahwa tidak ada sentimen yang kuat untuk harga. Berita tentang juga tidak kalah penting untuk ditinjau agar dapat melihat technical correction. Karena efek umumnya diperdagangkan sesuai dengan tren, tidak ada pengumuman yang signifikan atau faktor-faktor penting yang dapat mempengaruhi harga efek juga bisa membantu dalam mengkonfirmasi koreksi

Pola Technical Correction

Seperti jenis pergerakan pasar yang lain, beberapa studi dan pola analisis teknikal juga diperkenalkan untuk dapat membantu mendukung identifikasi pola koreksi dalam rencana perdagangan. Dua pola umum yang bisa membantu menunjukkan koreksi adalah Throwbacks dan Pullbacks. Teori Elliot Wave juga merupakan metode populer yang menjabarkan koreksi melalui penggunaan gelombang motif dan korektif.

Pengertian Koreksi

Koreksi atau correction merupakan penurunan yang biasanya terjadi secara tiba-tiba dan subtansial (10% atau bahkan lebih), di dalam harga saham, komoditas, obligasi, indeks ataupun pasar secara keseluruhan. Koreksi pasar umumnya terjadi saat harga efek atau sekuritas cukup tinggi yang berkaitan dengan pendapatan perusahaan dan indikator lainnya dari kesehatan ekonomi.

Ketika sebuah koreksi pasar lebih besar dari 10% dan harga yang tidak pulih dalam waktu yang singkat, maka hal ini dapat dianggap sebagai awal dari bear market. Investor, trader dan juga analis menggunakan metode charting dalam memprediksi dan melacak koreksi. Ada banyak faktor yang dapat memicu koreksi. Dimulai dari pergeseran makroekonomi skala besar sampai masalah internal yang dialami suatu perusahaan.

Sebelum terjadi koreksi pasar, saham individu mungkin sangat kuat atau malah berkinerja dengan sangat baik. Selama periode koreksi, aset individu sering berkinerja tidak baik karena kondisi pasar yang buruk. Koreksi bisa menciptakan peluang agar dapat membeli aset yang bernilai tinggi dengan harga diskon. Tetapi, investor juga harus mempertimbangkan risiko karena harga dapat mengalami penurunan lagi karena koreksi masih dapat berlanjut.

Cara Melindungi Dari Koreksi

Jika koreksi memengaruhi semua ekuitas, ada beberapa ekuitas yang mungkin terdampak lebih keras daripada yang lainnya. Saham yang berkapitalisasi kecil, saham high-growth di sektor volatile contohnya teknologi, akan cenderung bereaksi paling kuat.

Sektor-sektor yang lain lebih mempunyai daya tahan. Misalnya saja saham barang konsumen, lebih cenderung tahan terhadap siklus bisnis karena memproduksi kebutuhan sehari-hari. Agar dapat memberi perlindungan terhadap koreksi, dilakukanlah diversifikasi investasi.

Obligasi dan instrumen pendapatan tetap secara tradisional dapat menjadi penyeimbang terhadap ekuitas. Aset berwujud atau nyata, seperti komoditas atau real estat merupakan pilihan lain untuk mendiversifikasi aset keuangan seperti saham. Meskipun mengalami penurunan 10% secara signifikan dapat merugikan banyak portofolio investasi, terkadang koreksi dianggap sehat bagi pasar dan investor.

Untuk pasar, koreksi dapat membantu menyesuaikan dan mengkalibrasi ulang aset yang dinilai terlalu tinggi. Bagi investor, koreksi dapat memberikan peluang dalam mengambil keuntungan dari penurunan harga aset dan menjadi pelajaran berharga tentang seberapa cepat kondisi pasar dapat berubah.

Ciri-ciri Harga Saham Yang Akan Mengalami Koreksi

Ada beberapa ciri-ciri harga saham yang diprediksi akan mengalami koreksi, yaitu:

  • Diawali dengan kenaikan IHSG yang cukup tinggi (diikuti dengan kenaikan sebagian besar saham). IHSG akan mengalami kenaikan yang tinggi dari koreksi sebelumnya atau sedang rally.
  • Harga saham akan mengalami kenaikan secara drastis lebih dari sehari, sampai kembali mencapai titik resistennya.
  • Pada waktu tertentu, IHSG serta saham-saham masih bergerak naik, namun terbatas. Tandanya, banyak saham yang telah mulai sulit untuk naik lebih tinggi lagi.
  • Banyaknya harga saham yang tertahan di harga resisten serta tidak naik lagi.
  • Harga saham yang mulai koreksi dalam jangka waktu tertentu.

Istilah Yang Sering Digunakan Dalam Analisa Teknikal

Berikut istilah-istilah yang sering muncul dalam analisa teknikal, yaitu:

  1. Bullish

Bullish merupakan kondisi pasar atau efek tertentu, dimana suatu harga efek meningkat dan diharapkan akan semakin meningkat.

  1. Bearish

Bearish merupakan suatu kondisi pasar atau efek yang mengalami kepesimisan pasar, dimana harga efek menurun atau diprediksi semakin terus menurun.

  1. Rebound

Rebound merupakan suatu kondisi harga saham kembali naik setelah mengalami penurunan atau bearish. 

  1. Reversal

Reversal merupakan sebuah kondisi dimana harga saham bergerak arah dibandingkan dengan sebelumnya. Dapat dikatakan reversal apabila sebuah harga saham berbalik naik setelah mengalami tren penurunan atau bearish, dan dapat juga berbalik turun setelah harga saham mengalami tren naik atau bullish.

  1. Tren Naik atau Uptrend

Uptrend adalah suatu kondisi dimana sebuah efek membentuk garis tren yang menunjuk ke arah market sedang dalam kondisi baik serta kecenderungan ke area positif.

  1. Tren Turun atau Downtrend

Downtrend merupakan suatu kondisi dimana suatu efek akan membentuk garis tren yang menunjukkan ke arah market sedang dalam kondisi yang tidak baik serta kecenderungan ke area negatif.

  1. Bullish Mood

Bullish Mood merupakan sebuah kondisi dimana pasar atau efek yang sedang membentuk tren baru atau naik dalam jangka waktu yang lama.

  1. Bearish Mood

Bearish Mood adalah suatu kondisi dimana pasar atau efek sedang membentuk tren baru atau turun dalam jangka waktu yang lama.

  1. Overbought

Overbought merupakan suatu kondisi pasar atau efek mengalami kekuatan beli lebih kecil daripada kekuatan jual atau kondisi jenuh jual, sehingga dapat terjadi koreksi harga.

  1. Oversold

Oversold merupakan suatu kondisi pasar atau efek mengalami kekuatan untuk membeli lebih kecil dari kekuatan jual atau kondisi jenuh jual, sehingga dapat terjadi koreksi harga.

  1. Relative Strength Index(RSI)

Relative Strength Index (RSI) merupakan suatu indikator momentum yang membandingkan besaran kenaikan serta penurunan harga saham dengan rentang nilai 0 hingga 100. Harga saham cenderung turun jika telah memasuki overbought serta cenderung naik jika sudah memasuki area oversold.

Demikianlah artikel mengenai pengertian technical correction. Selain itu berbagai penjelasan telah dijabarkan dalam artikel ini. Semoga materi yang telah disampaikan dapat bermanfaat bagi yang membacanya.

Tags:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *