Memahami Pengertian Saham Tidur dan Daftar Saham Tidur di Bursa Efek Indonesia

Di Bursa Efek Indonesia atau BEI terdapat berbagai macam sebutan untuk saham, seperti saham gorengan, saham blue chip dan saham tidur, namun kali ini yang akan dibahas adalah pengertian saham tidur dan daftar saham tidur di Bursa Efek Indonesia. Bagi yang belum mengenal dunia saham pasti akan bertanya-tanya, mengapa ada istilah saham tidur?

Istilah tersebut memang cocok dengan karakteristik yang mencerminkan saham-saham yang termasuk kategori ini. Bayangkan saja, jika kita tertidur maka yang kita lakukan hanyalah bernafas. Seperti halnya orang yang sedang tidur, saham tidur juga tidak melakukan apapun yang dapat mempengaruhi harganya. Berikut penjelasan lebih lanjutnya.

Pengertian Saham Tidur dan Daftar Saham Tidur di Bursa Efek Indonesia

  1. Pengertian Saham Tidur

Jika sebuah saham tidak bergerak dalam jangka waktu yang cukup lama, maka saham tersebut dapat dikatakan saham tidur. Saham yang tidak bergerak tersebut disebabkan oleh tidak adanya orang yang berkeinginan untuk membeli di harga yang lebih tinggi atau alasan lain yaitu tidak adanya transaksi. Contohnya saham yang berada pada harga 50 yang merupakan harga terendah dari sebuah saham.

Banyak investor yang menawarkan saham pada harga 50, sehingga harganya tetap tidak bergerak sedikit pun. Maka dari itu banyak saham yang harganya 50 sulit untuk dapat naik, karena banyak yang menawarkan harganya di level yang paling rendah. Investor yang ingin memiliki saham tersebut langsung saja membeli pada penawaran harga 50 dibandingkan dengan menawar di harga yang lebih tinggi.

Selain itu, saham dapat dikatakan tertidur dikarenakan saham tersebut tidak likuid atau likuiditasnya rendah. Bisa saja sebuah saham dihargai 1000 namun apabila tidak terdapat transaksi dalam jangka waktu yang sangat lama, maka saham tersebut akan masuk kedalam kategori saham tidur juga.

  1. Daftar Saham Tidur di Bursa Efek Indonesia

Berikut ada beberapa daftar saham tidur yang terdapat dalam BEI, yaitu:

  • PT Mahaka Media Tbk (ABBA)
  • PT Asuransi Harta Aman Pratama Tbk (AHAP)
  • PT Argha Karya Prima Industri Tbk (AKPI)
  • PT Aqua Golden Missisippi Tbk (AQUA)
  • PT Alfa Retailindo Tbk (ALFA)
  • PT Arpeni Pratama Ocean Line Tbk (APOL)
  • PT Argo Pantes Tbk (ARGO)
  • PT Bara Jaya Internasional Tbk (ATPK)
  • PT Berlian Laju Tanker Tbk (BLTA)
  • PT Bank Nusantara Parahyangan Tbk (BBNP)
  • PT Bank Ekonomi Raharja Tbk (BAEK)
  • PT Bank Batavia Prosperindo Finance Tbk (BPFI)
  • PT Lamicitra Nusantara Tbk (LAMI)
  • PT Mira International Resources Tbk (MIRA)
  • PT Mitras Investindo TBK (MITI)
  • PT Enseval Putera Megatrading Tbk (EPMT)
  • PT Indonesia Transport & Infrastructure Tbk (IATA)
  • PT Cita Mineral Investindo Tbk (CITA)
  • PT Duti Pertiwi Tbk (DUTI)
  • PT Jakarta Setiabudi Internasional Tbk (JSPT)
  • PT Truba Alam Manunggal Engineering Tbk (TRUB)
  • PT Trust Finance Indonesia Tbk (TRUS)
  • PT Unitex Tbk (UNTX)
  • PT Katarina Utama Tbk (RINA)
  • PT New Century Development Tbk (PTRA)
  • PT Skybee Tbk (SKYB)
  • PT Zebra Nusantara Tbk (ZBRA)

Saham Tidur Sangat Berisiko

Jelas sekali bahwa dengan memiliki saham yang tertidur itu sangatlah merugikan. Saham yang tidak dapat dijual dengan mudah dan terkadang saham tersebut dapat bertahan di harga tidurnya dalam kurang waktu yang sangat lama.

Jika saham yang kurang likuid susah untuk dicairkan, maka saham yang tertidur pun lebih sulit untuk dicairkan. Seringkali sebuah saham tidur itu dikarenakan memang tidak ada yang memperdulikannya dan adanya unsur negatif dalam saham tersebut maupun perusahaannya. Sehingga jika memiliki saham yang tidur akan memiliki risiko yang sangat tinggi.

Namun apabila fundamental dapat berubah menjadi lebih baik, saham yang tidur akan dilirik oleh investor dan dapat menjadi lebih aktif di pasar.

Penyebab dari Saham Tidur dan Tidak Bergerak

Di Bursa Efek, akan ditemukan banyak sekali saham yang jumlahnya dapat mencapai 500 bahkan lebih dan akan terus bertambah. Tetapi, tidak semua saham diperdagangkan oleh pelaku pasar atau pemodal. Maka, alasan apakah yang membuat saham-saham di Bursa Efek tidak diperdagangkan?

Sebelum dibahas lebih lanjut, ada satu hal yang perlu diketahui. Pergerakan saham murni karena permintaan dan penawaran pelaku pasar atau pemodal. Jadi pergerakan saham tidak diatur atau dikendalikan oleh bursa. Sehingga banyak saham yang tidak bergerak atau ditradingkan di pasar saham.

  1. Jumlah saham yang beredar hanya sedikit

Apabila emiten melantai di Bursa memiliki jumlah saham yang beredar sedikit, maka investor ritel mempunyai kesempatan yang kecil untuk memiliki sahamnya dalam jumlah yang besar. Jika jumlah saham yang beredar hanya sedikit, hal tersebut akan mempengaruhi likuiditas sahamnya.

Investor tidak akan tertarik untuk melirik saham yang kapitalisasi pasarnya sangat kecil. Sehingga membuat saham tidak pernah diperdagangkan sama sekali.

  1. Tidak menariknya emiten

Arti dari tidak menarik ialah memiliki arti dari segi fundamental perusahaan yang kurang bagus. Baik dari sisi jumlah aset suatu perusahaan, perolehan labanya, rasio keuangan seperti EPS, ROE, lalu perusahaan terkait yang pamor dan kinerja keuangannya masih sangat jauh di bawah perusahaan-perusahaan sejenis lainnya.

  1. Belum waktunya untuk naik

Ada saham yang mempunyai fundamental bagus tetapi harga dari sahamnya tidak diperdagangkan. Artinya, saham tersebut masih belum waktunya untuk naik. Dalam konsep value interesting, seorang investor justru akan mengincar saham-saham seperti ini. Saham-saham tersebut dapat diibaratakan sebagai mutiara terpendam.

Upaya Bursa Efek Indonesia Terhadap Saham Tidur

Bursa Efek Indonesia memang tidak tinggal diam soal keberadaan saham-saham yang tidur. BEI mewajibkan jumlah saham emiten yang beredar atau Free Float minimal sebesar 7,5% dari jumlah saham dalam modal disetor semenjak 2016. Ketentuan tersebut tercantum dalam Keputusan Direksi BEI Nomor: Kep-00001/BEI/01-2014 perihal Perubahan Peraturan Nomor I-A tentang Pencatatan Saham dan Efek Bersifat Ekuitas Selain Saham yang diterbitkan oleh Emiten.

Selain itu, Bursa Efek Indonesia juga melakukan pendekatan secara pribadi kepada masing-masing emiten yang dikategorikan sebagai saham tidur. Mereka mendorong emiten untuk dapat lebih melakukan aksi korporasi agar saham lebih banyak yang beredar.

Jika saham-saham tidur menjadi lebih aktif, bukan tidak mungkin volume perdagangan di Bursa Efek Indonesia, termasuk nilai serta frekuensinya dapat lebih meningkat. Likuiditas saham-saham tersebut pun tidak akan diragukan lagi di pasar modal.

Di samping itu, Bursa Efek Indonesia diharapkan tidak asal dalam memilih perusahaan-perusahaan yang ingin melakukan pencatatan saham perdana (Initial Public Offering/IPO). Para emiten baru harus paham, bahwa setelah IPO, bukan berarti selesai dan tidak melakukan apapun, termasuk aksi korporasi.

Malah jika setelah IPO, emiten harus mampu membuktikan bahwa kinerja perusahaan dikelola dengan baik (Good Corporate Governance/GCG), sehingga bisa menarik para investor untuk melakukan jual beli saham. Sementara investor akan mendapatkan hasil yang bagus, bisnis dan permodalan emiten juga dapat bekembang.

Demikianlah artikel mengenai pengertian saham tidur dan daftar saham tidur di Bursa Efek Indonesia. Kesimpulannya, membeli saham yang tidur merupakan tindakan berisiko karena faktor likuiditasnya yang susah untuk dicairkan. Tetapi jika fundamentalnya membaik, saham tidur pun dapat menjadi saham yang aktif dan primadona pasar saham.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *