Rumus Altman Z-Score untuk Prediksi Kebangkrutan

Tentu di dunia ini tidak ada pengusaha yang ingin mengalami kebangkrutan namun meskipun begitu tidak ada juga bisnis yang akan selalu berjaya di sepanjang waktu. Nah, peran rumus Altman Z-Score untuk prediksi kebangkrutan suatu perusahaan. Altman Z-Score digunakan sebagai alat kontrol yang terukur pada status keuangan sebuah perusahaan yang sedang mengalami kesulitan keuangan dan bisa mengakibatkan kebangkrutan.

Sejarah dari Altman Z-Score sendiri berasal dari ahli yang bernama Edward. I Altman yang memberikan formula untuk memprediksi potensi kebangkrutan suatu perusahaan dengan menggunakan angka-angka di dalam laporan keuangan dan mempresentasikannya kembali dalam suatu angka. Sejarah ini dimulai sejak tahun 1967 dan merilis hasilnya di tahun 1968. Edward. I Altman pertama kali menggunakan sistem ini ketika beliau ingin mengukur kerentanan bisnis terhadap kegagalan dengan menggunakan statistic multivariate.

Cara perhitungannya terbilang mudah, kamu hanya perlu menghitung masing-masing rasio dari kelima rasio keuangan. Apa saja kelima rasio keuangan tersebut? Berikut jawabannya:

  • Rasio Profitabilitas
  • Rasio Leverage
  • Rasio Likuiditas
  • Rasio Solvabilitas
  • Rasio Aktivitas

Setelah menghitung masing-masing rasio dari kelima rasio tersebut, kamu perlu memasukkannya ke dalam persamaan untuk menghasilkan Z-Score. Skor atau hasil nilai ini akan berguna untuk memprediksi tingkat probabilitas suatu perusahaan apakah tinggi untuk pailit. Lalu, ketika hasil sudah diterima, kamu bisa membandingkannya dengan perusahaan lain.

Masih bingung dengan rumus Altman Z-Score untuk prediksi kebangkrutan suatu perusahaan? Simak lebih lanjut lagi penjelasannya

Perhitungan dengan rumus Altman Z-Score penting untuk digunakan karena rumus ini dapat memfasilitasi analisa dan membuat suatu keputusan. Dengan menggunakan rumus ini, kamu bisa dengan mudah menilai kualitas kredit perusahaan tanpa harus melakukan perkembangan atau menciptakan model sendiri.

Altman Z-Score biasanya digunakan oleh para investor untuk keputusan jual-beli sebuah perusahaan di pasar saham. Faktor yang biasanya dijadikan pertimbangan untuk membeli sebuah saham adalah jika nilai Altman Z-Score mendekati angka 3. Selain itu, pertimbangan untuk menjual sebuah saham adalah jika nilai Altman Z-Score mendekati angka 1,8.

Rumus untuk mendapatkan hasil dari Altman Z-Score adalah sebagai berikut:

Z-Score = 1.2 T1  + 1.4T2 + 3.3T3 + 0.6T4 + 0.999T5

Berikut keterangan lebih lanjutnya mengenai rumus-rumus di atas:

  1. T1 = Working Capital atau Total Aset

T1 disini bertujuan untuk mengukur besaran aset likuid jika dibandingkan dengan keseluruhan aset yang dimiliki. Hal ini berdasarkan dari pengamatan Edward. I Altaman terhadap current ratio dan acid ratio yang kurang baik untuk digunakan sebagai prediksi kebangkrutan suatu perusahaan.

  1. T2 = Retained Earnings atau Total Aset

Untuk T2 sendiri berguna sebagai alat ukur suatu laba apakah secara kumulatif mampu mengimbangi jumlah aset. Laba yang ditahan adalah akumulasi laba bersih yang tidak dibagikan ke para pemegang saham sebagai dividen, bisa dikatakan ini merupakan sumber modal internal suatu perusahaan. Semakin tinggi rasio, maka semakin besar modal internalnya. Jika perusahaan hanya memiliki laba ditahan sedikit, maka perusahaan tersebut harus mendapatkan modal dari sumber yang lain, misal lewat suntikan modal oleh pemegang saham atau hutang.

  1. T3 = Earnings Before Interest and Taxes atau Total Aset

Parameter ini digunakan untuk mengukur profitabilitas suatu perusahaan atau bisnis tidak dengan memandang seberapa besar hutang yang dimiliki perusahaan tersebut. Parameter ini akan memberitahumu laba yang diperoleh perusahaan sebelum membayar pengeluaran rutin, pajak, dan bunga.

  1. T4 = Market Value of Equity atau Total liabilitas

Untuk parameter ini digunakan sebagai pengukur tingkat leverage dari suatu perusahaan. Sebuah perusahaan sangat tidak dianjurkan untuk memiliki hutang yang terlampau besar, karena ini akan membahayakan kelangsungan berjalannya perusahaan tersebut, belum lagi kalau di belakang hutang tersebut masih ada bunga yang harus dibayar oleh perusahaan. Tentu ini akan sangat merugikan.

  1. T5 = Sales atau Total Aset

Nama lain dari parameter ini adalah Assets Turnover. Biasanya, parameter ini digunakan untuk mengukur tingkat efisiensi suatu perusahaan atau bisnis dalam memanfaatkan aset yang dimiliki. Namun, perlu kamu ketahui bahwa nilai Assets Turnover akan berbeda-beda untuk tiap industri, jadi kamu harus lebih bijak dalam menafsirkan angka-angka tersebut.

Penafsiran angka dari hasil Z-Score

Penafsiran angka dari hasil Z-Score sendiri terbilang mudah untuk dipelajari, apalagi saat ini teknologi sudah semakin canggih sehingga kamu bisa mencari tahu tentang hal ini melalui internet. Berikut penafsiran angka dari hasil Z-Score yang perlu kamu ketahui:

  1. Z-Score > 3.00

Berdasarkan laporan keuangan, angka ini mengartikan suatu perusahaan terbilang aman.

  1. 70 ≤ Z-Score < 2.99

Berdasarkan laporan keuangan, angka ini menunjukkan terdapat kondisi keuangan di suatu bagian perusahaan yang sedang membutuhkan perhatian khusus.

  1. 80 ≤ Z-Score < 2.70

Berdasarkan laporan keuangan, ada kemungkinan suatu perusahaan yang menghasilkan angka di kisaran ini akan mengalami kebangkrutan dalam 2 tahun kemudian.

  1. Z-Score < 1.80

Berdasarkan laporan keuangan, perusahaan yang menghasilkan angka ini kemungkinan besar akan mengalami kebangkrutan.

Keempat penafsiran ini perlu kamu pelajari dengan baik, karena kamu juga membutuhkan ilmu-ilmu untuk menggunakan formula Altman Z-Score yang benar. Jadi, untuk mempermudah penggunaannya lebih baik kamu mempelajari ilmu-ilmunya terlebih dahulu.

Beberapa kritik yang didapatkan perhitungan Altman Z-Score

Karena riwayat akurasi dari sistem perhitungan Altman Z-Score tidak selalu sama, jadi ada beberapa orang yang mengkritiknya. Apa saja kritik yang didapatkan?

  • Model tergantung contoh yang diambil. Hal ini mungkin tidak akurat untuk perusahaan di negara yang berbeda, contohnya di Indonesia akurasi model Altman Z-Score hanya di kisaran 27.98% untuk perusahaan manufaktur yang terdaftar secara resmi di Bursa Efek Indonesia.
  • Lingkungan bisnis dan persaingan yang terus berubah. Hal ini akan mengekspos kinerja keuangan perusahaan dan tingkat kebangkrutannya. Contoh dari meningkatnya persaingan global adalah semakin menekan profitabilitas banyak perusahaan sehingga dengan menggunakan skor batas awal adalah tidak tepat.
  • Sistem perhitungan atau prediksi ini tidak dapat memprediksi tingkat kebangkrutan suatu perusahaan secara hukum.

Kritik-kritik ini tidak pernah berhenti diutarakan oleh orang-orang yang bersilang pendapat mengenai Altman Z-Score namun meskipun begitu kamu tidak perlu menganggap kritik-kritik ini sebagai acuan, karena sepertinya lebih banyak orang yang mendukung Altman Z-Score daripada yang menentangnya.

Sebelum artikel mengenai rumus Altman Z-Score untuk prediksi kebangkrutan suatu perusahaan ini berakhir, ada 1 hal lagi yang perlu kamu ketahui, yaitu Altman Z-Score tidak bisa digunakan oleh perusahaan jenis jasa keuangan atau lembaga keuangan baik itu swasta atau pun pemerintah. Pasalnya, perusahaan-perusahaan jenis ini biasanya ada kecenderungan perbedaan yang cukup besar antara neraca institusi keuangan dengan institusi keuangan lainnya. Nah, sekarang kamu sudah cukup memahami sistem prediksi ini kan? Selamat mencobanya sendiri bagi kamu yang memiliki suatu usaha tertentu.

Tags:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *