6 Risiko Investasi Saham Yang Wajib Diketahui

Risiko Investasi Saham sejatinya sudah menjadi makanan sehari-hari bagi setiap pelaku dalam dunia investasi saham. Bagi seorang investor dan pelaku lainnya, hal tersebut dapat dijadikan suatu motivasi dan juga prinsip untuk menjalani setiap kondisi pasar.

Risiko sendiri umumnya disebut dengan suatu kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan. Sama halnya dengan suatu kondisi investasi yang diharapkan dapat menghasilkan keuntungan besar, rupanya tidak sesuai dengan harapan.

Sehingga jenis investasi apapun yang dipilih seorang investor, pastinya memiliki risiko yang harus diterima. Menilik istilah “high risk, high return” yang artinya semakin tinggi risiko semakin tinggi pula yang didapatkan, namun tidak semua dapat berjalan sesuai kehendak kita.

6 Risiko Investasi Saham Paling Sering Ditemui Investor

Karena itulah pentingnya memiliki strategi dan prinsip yang kuat, agar kita tidak gelisah saat harus mengambil suatu pilihan dengan risiko di dalamnya. Di samping itu, mengetahui berbagai risiko dalam investasi saham dapat menjadi pilihan yang tepat.

Sehingga ke depannya para investor atau pemegang saham dapat menjadikan risiko-risiko tersebut sebagai acuan untuk membuat strategi yang lebih baik lagi ke depannya.

Untuk itu, simak beberapa risiko dalam investasi saham di bawah ini:

  1. Capital Loss

Capital Loss atau kerugian modal merupakan salah satu risiko dalam investasi saham yang kemungkinan besar dapat dialami oleh para investor. Karena setiap harinya berbagai instrumen investasi harganya dapat berubah-ubah.

Sebab itulah seorang investor dapat mengalami risiko capital loss kapan saja. Bahkan, pada hari pertama melakukan investasi sekalipun. Sedangkan capital loss itu sendiri merupakan suatu kondisi saat harga jual suatu saham cenderung rendah dibandingkan harga belinya.

Capital loss ini dapat dikatakan sebagai kebalikan dari Capital Gain atau keuntungan modal. Sehingga capital gain memiliki kondisi saat harga jual saham yang lebih tinggi dibandingkan dari harga belinya.

Untuk menghindari terjadinya capital loss, seorang investor harus memiliki strategi yang tepat dalam berinvestasi saham. Maka, membeli suatu saham saat harganya cenderung lebih rendah dan kemudian menjualnya dengan harga yang lebih tinggi, merupakan pilihan terbaik.

  1. Suspensi

risiko dalam investasi saham yang dikenal dengan istilah suspensi ini, merupakan kondisi di mana perdagangan suatu saham harus dihentikan dikarenakan berbagai faktor. Dalam kondisi ini, seorang investor saham tidak dapat melanjutkan transaksi saham yang terkena suspensi tersebut.

Suspensi saham pada umumnya dapat berlangsung selama beberapa hari saja. Namun tak menutup kemungkinan saham yang disuspensi tersebut dapat berlaku hingga berbulan-bulan bahkan hingga satu tahun.

Ketika suatu saham terkena suspensi, Bursa akan merilis pengumumannya secara terperinci dan akan diperlihatkan di situs resminya. Sedangkan menurut bursa, suspensi tersebut diberlakukan guna menyediakan waktu lebih memadai bagi para pelaku pasar.

Dalam kondisi ini para pelaku pasar dapat mempertimbangkan dengan matang berbagai informasi secara akurat untuk setiap keputusan yang diambil dalam investasi suatu saham. Namun, risiko suspensi tersebut jarang dialami oleh jenis perusahaan dengan kapitalisasi pasar raksasa.

  1. Likuidasi

Likuidasi merupakan salah satu risiko dalam investasi saham yang patut diwaspadai. Sebab likuidasi dapat terjadi apabila suatu perusahaan dengan saham yang dimiliki investor dinyatakan bangkrut oleh pengadilan atau bahkan dibubarkan.

Perusahaan yang terkena likuidasi dituntut untuk memenuhi kewajibannya dengan memberikan suatu “hak” kepada pihak-pihak tertentu seperti kreditur dan juga para pemegang saham. Pemegang saham biasanya mendapatkan hak paling terakhir.

Dengan kata lain, pemegang saham akan mendapatkan harta dari sisa saham perusahaan tadi, setelah perusahaan dapat menuntaskan kewajibannya. Sayangnya jika tidak ada sisa dari saham tersebut, pemegang saham tidak akan mendapatkan hasil dari situasi likuidasi tersebut.

Untuk menghindari hal tersebut, para investor dapat memantau perkembangan suatu perusahaan secara berkala. Sebab perusahaan yang memiliki masalah hingga akan diperkirakan bangkrut, umumnya mendapatkan banyak perhatian dari pihak-pihak tertentu seperti bursa dan juga media massa.

  1. Delisting

Delisting merupakan risiko yang lebih buruk dari likuidasi dalam investasi saham. Sebab setelah berbagai pertimbangan, suatu saham dapat dihapus dari bursa dikarenakan berbagai faktor krusial. Delisting ini merupakan kondisi di mana dilakukan penghapusan pencatatan saham di bursa.

Setelah dilakukan delisting, suatu saham tidak dapat lagi ditransaksikan di bursa. Meski begitu, status dari perusahaan dengan kondisi delisting umumnya tetap menjadi jenis perusahaan publik. Hanya saja sahamnya tidak lagi tercatat di bursa.

Sehingga suatu perusahaan dengan saham yang telah di-delisting, tidak mempunyai kewajiban sebagai perusahaan yang tercatat. Meski risikonya cukup berat, namun setiap perusahaan yang telah delisting tadi masih diperbolehkan untuk mencatatkan lagi sahamnya di bursa.

Hal tersebut tentunya sesuai dengan ketentuan yang diberlakukan atau disebut sebagai “relisting”. Perlu diketahui, relisting ini dapat dilakukan setiap enam bulan setelah masa delisting efektif.

  1. Fluktuasi Harga Saham

Pada umumnya harga saham di pasar modal akan bergerak mengikuti mekanisme dari permintaan dan juga penawaran yang ada. Namun terkadang, risiko inilah yang justru dimanfaatkan oleh kebanyakan investor untuk mendapatkan keuntungan dari sisa pembelian dan penjualan.

Namun tetap saja, terjadinya fluktuasi harga saham menjadi salah satu risiko dalam investasi saham yang tidak dapat disepelekan. Karena perusahaan yang mengalami fluktuasi harga saham ini, dapat menyerang ke semua saham secara menyeluruh atau disebut sebagai risiko sistemik.

Dalam hal ini teknik diversifikasi saham pun, tidak dapat menghindari risiko sistemik tersebut. Karena semua saham umumnya terkena imbasnya. Sedangkan kondisi ini dalam saham tertentu, dapat disebut sebagai risiko non sistemik.

  1. Tidak Mendapat Dividen

Dividen yang merupakan suatu keuntungan dari perusahaan, umumnya akan dibagikan pada pemegang saham. Adapun keuntungan lain yang ditahan ataupun kas, biasanya digunakan untuk membiayai ekspansi suatu perusahaan di masa mendatang.

Bagi hasil dari keuntungan tersebut disebut dengan dividen. Namun di sisi lain, seorang pemegang saham atau investor sejatinya harus memahami bahwa suatu perusahaan tidak memiliki kewajiban untuk membagi dividen kepada pihak lain. Dalam hal ini rupanya telah ditentukan dalam sebuah Rapat Umum Pemegang Saham atau RUPS.

Meski termasuk ke dalam risiko dalam investasi saham, namun tidak mendapat dividen sejatinya tidak terlalu merugikan pihak pemegang saham. Meski begitu, semuanya kembali kepada peraturan perusahaan masing-masing.

Jika seorang pemegang saham tidak terlalu mempermasalahkan dividen ini, risiko tidak mendapatkan dividen dapat dianggap hal biasa dan sudah lumrah. Namun, bagi seorang pemegang saham yang tetap ingin mendapatkan dividen, baiknya memilih perusahaan tertentu yang memberikan keuntungan berupa dividen.

Siap Dengan Segala Risikonya

Itulah sedikitnya risiko Investasi Saham yang umumnya sering kali terjadi dalam dunia investasi saham. Mungkin saja, masih terdapat risiko lainnya dalam investasi saham tersebut. Meski begitu, Anda yang memilih menjadi seorang investor tentunya harus siap dengan segala risiko yang akan terjadi di dalamnya.

Tags:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *