Analisis Fundamental Saham, Price Earning Ratio (PER) yang Wajib Kamu Ketahui

Analisis Fundamental Saham, Price Earning Ratio (PER) – Dalam pemenuhan kebutuhan pendanaannya, perusahaan mengeluarkan saham yang kemudian digunakan oleh para investor untuk menginvestasikan dana yang dimilikinya dalam bentuk saham (lembaran saham).

Seperti yang kita ketahui bahwa tujuan utama dari investasi adalah untuk mendapat keuntungan berupa capital gain atau dividen. Investasi dalam bentuk saham memiliki resiko yang besar, oleh karena itu untuk meminimalkan resiko diperlukan analisis agar mendapatkan hasil yang optimal.

Ada 2 jenis analisis yaitu analisis teknikal dan fundamental. Analisis perusahaan mendasarkan pengambilan keputusan investor untuk menilai apakah saham perusahaan yang bersangkutan undervalued atau overvalued.

Dalam artikel ini akan menyinggung dan membahas mengenai analisis fundamental saham, Price Earning Ratio (PER).

Analisis Fundamental Saham, Price Earning Ratio (PER)

Analisis fundamental merupakan suatu analisis yang digunakan untuk menganalisis perusahaan sebagai dasar pengambilan keputusan sebelum berinvestasi. Analisis perusahaan berkaitan dengan penentuan saham-saham perusahaan manakah yang dapat memberikan keuntungan / return yang besar bagi investor.

Penilaian ini didasarkan atas perbandingan nilai intrinsik saham perusahaan dengan nilai pasarnya. Suatu saham bisa dikatakan overvalued apabila nilai intrinsik saham lebih rendah daripada harga di pasar. Sedangkan saham dikatakan undervalued apabila nilai intrinsik saham lebih tinggi daripada harga pasarnya.

Apabila saham tersebut undervalued maka saham tersebut layak dan harus dibeli. Sebaliknya, jika saham tersebut overvalued maka sebaiknya ditahan dan jangan dibeli terlebih dahulu.

Dalam analisis fundamental, ada 6 jenis rasio yaitu:

  1. Return On Equity (ROE), yang menunjukkan tingkat kemampuan perusahaan dalam mengelola modal dari pemegang saham untuk mendapatkan laba bersih.
  2. Earning Per Share (EPS), yang menggambarkan perbandingan antara pendapatan bersih setelah pajak dengan jumlah lembar saham perusahaan.
  3. Debt to Equity Ratio (DER), yang memperlihatkan bagaimana mengukur tingkat penggunaan utang terhadap ekuitas yang dimiliki oleh perusahaan.
  4. Price to Book Value (PBV), yang menggambarkan bagaimana mengukur seberapa besar pasar dengan cara menilai harga suatu perusahaan dengan mengkomparasikannya terhadap kekayaan bersih.
  5. Dividend Yield (DY), yang menggambarkan seberapa besar ukuran pembagian dividen oleh perusahaan terhadap harga saham di pasarnya.
  6. Price Eraning Ratio (PER), yang merupakan rasio untuk menghitung nilai intrinsik saham dengan membandingkan harga saham dengan laba (earning) perusahaan.

Price Earning Ratio (PER)

Price Earning Ratio (PER) merupakan rasio yang digunakan para investor untuk menghitung berapa kali nilai earning yang tercermin dalam suatu saham dengan cara membandingkan harga saham terhadap  pendapatan per lembar dengan laba (earning) perusahaan.

Informasi PER menunjukan berapa besarnya rupiah yang harus dibayarkan investor untuk memperoleh satu rupiah earning perusahaan. PER membantu para investor melihat bagaimana kinerja suatu perusahaan dari tahun ke tahun apakah baik atau tidak.

Semakin tinggi Price Earning Ratio (PER) akan semakin tinggi juga kepercayaan investor terhadap perusahaan, sehingga investor akan berminat untuk menanamkan modal di perusahaan tersebut dan menyebabkan harga saham perusahaan akan ikut naik.

Singkatnya, jika perusahaan memiliki PER yang paling tinggi maka perusahaan tersebut memiliki harga yang paling mahal. Sebaliknya, jika perusahaan memiliki PER paling rendah maka harga sahamnya juga paling rendah.

Selain itu apabila nilai PER suatu perusahaan tersebut memiliki tingkat pertumbuhan yang tinggi, karena perusahaan tidak mendistribusikan seluruh laba kepada pemegang saham.

Sebagian besar investor mengatakan bahwa Price Earning Ratio (PER) memiliki pengaruh yang sangat siginifikan sekaligus positif terhadap harga saham. Akan tetapi menurut beberapa studi kasus mengatakan bahwa Price Earning Ratio (PER) tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap harga saham.

PER yang bisa dikatakan baik ketika PER tersebut moderat, bagi investor PER yang rendah akan lebih menarik karena harga saham murah dan ada peluang PER naik dan mendapatkan return. Sebaliknya, apabila PER perusahaan tersebut tinggi maka kesempatan investor untuk mendapatkan return lebih sedikit.

Akan tetapi para investor harus berhati-hati kepada PER yang terlalu rendah jika dibandingkan dengan perusahaan lain sekelasnya dikhawatirkan ada masalah pada perusahaan tersebut.

Rumus perhitngan PER adalah harga saat ini dibagi dengan laba per lembar saham.

3 Elemen dalam Analisis Fundamental

  1. Ekonomi Makro

Elemen ini menggunakan penglihatan atas dasar kondisi perekonomian secara makro (umum) dengan tujuan agar mengetahui bagaimana dan seberapa jauh pengaruhnya terhadap kadaan pasar modal khususnya pergerakan harga saham.

Ada 4 indikator dalam makro ekonomi yang dapat mempengaruhi pergerakan harga saham yaitu Produk Domestik Bruto (PDB), tingkat suku bunga, tingkat inflasi, serta nilai tukar terhadap rupiah.

  1. Analisis Industri

Elemen ini berfungsi untuk mengidentifikasi siklus hidup industri serta kekuatan – kekuatan yang mempengaruhi persaingan dalam industri yang nantinya akan berpengaruh pada kinerja perusahaan.

Investor harus benar – benar mengetahui bahwa industri tersebut dapat memberikan prospek investasi yang menguntungkan.

Ada 5 kekuatan yang mempengaruhi persaingan industri melalui Porter’s Five Forces yaitu hambatan bagi pemain baru, kekuatan tawar – menawar, kekuatan tawar dari pemasok, ancaman dari produk substitusi hingga kekuatan tawar dari pemasok

  1. Analisis Perusahaan

Elemen ini menggunakan metode analisis rasio keuangan di mana di dalamnya ada beberapa rasio yang digunakan yaitu:

  • Rasio Aktivitas, rasio yang mengukur tingkat efektivitas dalam memanfaatkan sumber daya yang dimiliki. Rasio ini menunjukkan perbandingan antara hasil investasi dalam beberapa aktiva dengan hasil penjualan yang biasa disebut dengan capital turnover ratio (rasio perputaran modal).
  • Rasio Likuiditas, rasio yang mengukur kemampuan perusahaan bagaimana ia memenuhi kewajiban yang harus dipenuhi dalam jatah tempo dan membayar tepat waktu. Bisa dikatan likuid apabila memiliki aktiva dan alat pembayaran yang lancar serta lebih besar dibanding utang lancarnya. Sebaliknya, dikatakan tidak likuid apabila perusahaan tida segera memenuhi kewajibannya tepat waktu.
  • Rasio Profibilitas, rasio yang menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba. Rasio ini menunjukkan efektivitas manajemen dalam menghasilkan keuntungan pada tingkat penjualan, modal saham, atau aset.

Saran Bagi Para Investor

  • Sebelum berinvestasi, sebaiknya investor memperhatikan pertumbuhan bisnis dari sub sektor produk dalam pasar selain hanya melihat nilai wajar dari saham untuk keputusan investasi.
  • Penggunaan metode Price Earning Ratio dan Dividen Discounted Model dapat saling melengkapi untuk pengambilan keputusan bagi para investor. Selain itu, investor sebaiknya menggabungkan juga dengan analisis teknikal sehingga return yang didapatkan dari saham akan lebih maksimal daripada hanya berfokus pada penilaian harga wajar saham saja.

Analisis Fundamental Saham, Price Earning Ratio (PER) di atas semoga dapat membantu dalam menambah pemahaman dan menjadi bahan pertimbangan ketika akan berinvestasi secara langsung dalam suatu perusahaan. Analisis dan perhitungan di atas tidak bisa dipelajari hanya dalam waktu semalam saja, akan tetapi memerlukan waktu yang lama untuk melakukan survey, analisis, hingga menuai return. Karena tujuan utama berinvestasi adalah untuk mendapatkan return dari adanya capital gain maupun dividen.

Tags:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *