Apa Itu Pola Distribusi Saham dan Bagaimana Cara Kerjanya?

Pernah mendengar soal distribusi saham? Pada dasarnya ini adalah kondisi dimana terdapat sebuah saham yang dikumpulkan dari sejumlah investor ke beberapa blok besar untuk kemudian dijual. Pola distribusi saham mengacu pada tahap dengan blok-blok kecil dan tidak dilakukan salam bentuk satuan dengan sekali jual atau hanya satu blok besar saja.

Tujuannya, untuk menghindari kebanjiran pasar dengan sekuritas yang berpotensi menurunkan harga di kemudian hari. Likuiditas di pasar sekuritas sendiri bakal menentukan sebagian besar nilai yang dipecah.

Bagaimana Pola Distribusi Saham Bekerja?

Mulanya, terdapat dana investasi yang dikelola dalam porsi besar, untuk dilikuidasi lalu dijual secara teratur seoptimal mungkin di pasar saham. Membuang pasokan besar pada pasar melalui permintaan meski tak cukup untuk menyerap saham kontraproduktif. Kondisi ini mengindikasikan manajemen investasi karena penjualan yang bakal dieksekusi dengan harga kliring yang justru lebih rendah.

Pola distribusi saham ini selanjutnya dilukuidasi dalam waktu beberapa hari atau minggu saja tanpa tekanan harga atau informasi kepada pihak lain perihal keberadaan penjual besar di pasar tersebut.

Pola yang dimaksud pada kalimat ini bukanlah candlestick pattern, melainkan sebuah pola transaksi yang terjadi pada sebuah saham. Dasar identifikasi pola ini merupakan volume dalam satuan lot, sebagaimana yang tampil pada layar Broker Summary. Gunanya, untuk mengidentifikasi apakah sebuah saham yang ada lebih dominan pada minat beli atau justru minat jual.

Sebagaimana diketahui, saham merupakan komoditas yang diperjualbelikan, maka tak heran jika dalam satu hari terdapat pasar saham yang akan mengalami perpindahan pemilik (barang komoditas) dari satu pihak ke pihak yang berbeda. Jika Anda menanyakan, kenapa harga saham bisa jatuh dan dalam rentan yang berapa lama?.

Sederhananya, barang hanya mungkin untuk dijual jika terdapat sisa stok untuk ditawarkan. Apabila stoknya sudah habis, maka jelas barang akan berbalik menjadi akumulasi nilai beli. Kondisi inilah yang selanjutnya mendorong sistem gait saham untuk memvisualisasikan pergerakan stok yang ada. Volume transaksi tersebut, akan tampil dalam bentuk grafik untuk pengamatan lanjutan setiap pergerakannya.

Berikutnya, pemilik saham bisa mengidentifikasi kecenderungan minat jual atau beli untuk diakumulasikan hingga mampu memberi gambaran tentang stok barang dari waktu ke waktu. Pergerakan inilah, yang dipresentasikan melalui garis warna kuning pada pelbagai traffic saham.

Untuk semua investor pada jangka panjang, garis kuning inilah yang bisa menjadi patokan guna mengamati posisi saham. Garis kuning tersebut, bisa mengindikasikan apakah pengguna akan menahan (hold), entry atau malah exit. Setiap keputusan bisa tergantung pada garis kuning pada grafik yang ada, sebagai landasan atau analisa dasar.

Contoh saja, pada garis kuning BRPT beberapa waktu lalu, dimana investor bisa terus melakukan entry atau top up secara berkala maupun hold sepanjang garis kuning masih memperlihatkan akumulasi yang akurat. Investor juga sangat mungkin untuk exit apabila terdapat penurunan tajam pada garis kuning pada grafik.

Contoh lain pada case saham BBRP di Bursa Efek Indonesia (BEI), yang mana jika saham terus dilepas oleh para pelakunya, maka entry sangat mungkin dilakukan jika garis kuning terlihat membalik arah atau naik secara pelan maupun signifikan. Sebagai saran, ada baiknya untuk tidak entry jika garis kuning cenderung turun karena karena akan sangat beresiko.

Kondisi ini juga bisa disebut dengan falling knife atau pisau sedang jatuh, dan sangat mungkin beresiko mengalami kerugian. Jika Anda tidak tau seberapa dalam saham tersebut bakal jatuh, Anda malah akan kehabisan model sementara Anda bisa mendapatkan keuntungan dari saham lainnya.

Tahap ini penting sebagai analisa awal, karena menghindari Anda dari risiko kerugian karena jatuhnya harga saham secara signifikan. Analisa garis kuning akan memperlihatkan pergerakan sebagaimana kondisi di pasar saham.

Mendeteksi Waktu Distribusi Saham (Distribution Days)

Sebelum itu, diperlukan deteksi yang menyeluruh mengenai distribusi saham atau istilah lainnya distribution days. Distribution day sendiri adalah semua yang terkait dengan penjualan saham internasional skala berat yang sedang berlangsung. Secara teknis, distribution days terjadi kala indeks pasar utama turun hingga 0,2% atau lebih pada volume yang cenderung tinggi ketimbang hari dagang sebelumnya.

Serangkaian waktu inilah yang disebut sebagai distribution days yang juga dikaitkan dengan sejumlah tanda top market. Distribusi saham sangat mungkin untuk menjadi bagian dari periode penjualan volume tinggi pada pasar. Meski, penjual pada posisi besar mungkin tidak akan sepenuhnya mampu membongkar jumlah saham yang diinginkan.

Selanjutnya, jika distribusi berkembang dengan cukup pesat, itu berarti pertanda jika investor besar beralih dari saham kepada jenis investasi lain semisal uang tunai. Banyak dari manajer investasi yang diam soal keputusan besar tersebut, meski mungkin untuk berbicara soal saham di muka umum secara kompleks.

Namun, setiap investor bisa mendeteksi distribusi melalui grafik harga serta volume indeks utama yang dibuat. Terutama pada distribusi ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan secara signifikan dengan volume yang lebih tinggi daripada sebelumnya. Jelas saja, penurunan volume ini sesekali bisa terjadi ketika pasar bergerak dengan lebih kuat dan terlihat. Namun bagian yang sulitnya adalah, mengetahui berapa hari distribusi yang bisa mewakili risiko nyata untuk pasar.

Bagi orang-orang yang telah mempelajari pasar saham selama beberapa dekade belakangan, mereka dapat menyimpulkan jika umumnya terdapat lima hingga enak hari distribusi yang jelas perihal seluruh periode lima minggu sebagai tingkat kritis. Jika hal ini terjadi, maka umumnya top market pasti sedang dikerjakan.

Sederhananya, distribution days hanya terjadi ketika indeks utama masih naik ke posisi tertinggi baru. Termasuk, bentuk distribusi yang tergolong berbahaya yang bisa disebut stalling. Ketika itu, indeks utama bisa membuat beberapa kemajuan harga pada volume yang lebih tinggi. Kadangkala, indeks ditutup lebih rendah pada kisaran harga harian lantaran pembeli meninggalkan pasar pada waktu-waktu terakhir.

Di beberapa kasus lama, distribusi berat cenderung tidak menghasilkan efek yang berat pula. Malah, waktu itulah dimana saham-saham terkemuka mampu bertahan dengan lebih baik di tengah penjualan yang berat. Maka kesimpulannya, hal ini bisa menjadi tanda jika smart money belum sepenuhnya mampu menalangi saham.

Peran Bandar Saham dalam Distribusi

Aspek lain yang perlu diperhatikan adalah bandar saham yang selalu berupaya meraup untung dengan menggoreng harga saham. Terdapat tiga tahap yang dimanfaatkan yaitu akumulasi, partisipasi dan tentu, distribusi. Ketiga tahap tersebut bakal menggoreng saham tak hanya pada skala kecil, melainkan saham kapitalisasi besar.

Pada fase distribusi, para bandar bakal melakukan profit taking guna meraup untuk dengan menjual kepemilikan saham yang dimiliki. Untuk mengatasinya, Anda perlu merespon lebih cepat setiap pergerakan saham yang tiba-tiba agar investasi Anda lebih aman. Itulah pola distribusi saham, cara kerja segera antisipasi yang bisa dilakukan untuk meraup cuan.

Tags:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *