Perbedaan Saham Syariah dan Konvensional Yang Harus Kamu Ketahui

Untuk pengertian saham syariah, memiliki perbedaan dengan saham biasa, atau yang disebut saham konvensional. Tentu kata tersebut sudah tidak asing di telinga anda, karena hal tersebut sudah merebak dengan asal mula perbankan yang mulai menerapkan metode keuangan syariah. Sejak itu pula kata konvensional mencuat mengimbaingi kata syariah untuk menjadi pembeda.

Jika anda memiliki uang lebih yang belum ada rencana untuk dipergunakan, anda bisa menggunakannya untuk berinvestasi. Investasi dengan saham memiliki resiko naik dan turun sesuai harga saham di pasaran. Akan baik juga harga saham terus naik yang juga mengakibatkan anda dapat memperoleh keuntungan lebih. Lain halnya apabila harga saham turun, anda harus berhati-hati dan mengambil langkah agar tidak mengalami kerugian.

Orang-orang yang memilih berinvestasi menggunakan saham, memiliki pandangan jauh untuk masa depan yang cerah. Untuk membangun rumah, biaya pendidikan, tunjangan hari tua. Saham dipercaya bisa memberikan keuntungan yang lumayan, sehingga banyak orang yang tertarik untuk mencobanya. Apalagi dengan semakin mudah dan murahnya saham yang ditawarkan di masa sekarang ini.

Mengetahui Perbedaan Pengertian Saham Syariah dan Saham Konvensional

  1. Saham Syariah

Apakah anda sudah pernah mendengar metode keuangan syariah yang digunakan di bank? Atau anda sudah pernah menggunakannya?

Kata syariah disini menjadi label yang bisa meyakinkan orang-orang yang beragama islam untuk tetap bisa melangkah melakukan bisnis tanpa khawatir jika bisnis tersebut tidak sesuai dengan hukum islam. Banyak orang yang takut jika langkah yang diambil ternyata salah, dan justru menambah dosa.

Untuk pengertiannya, saham syariah sebenarnya hampir sama dengan saham biasanya. Saham diartikan sebagai surat penting yang berisi penjelasan kepemilikan atas suatu perusahaan karena telah membeli sebagian saham dari perusahaan tersebut. Sedangkan syariah disini, karena perusahaan tersebut beroperasi dengan ketentuan-ketentuan yang ditetapkan agama Islam.

Perusahaan-perusahaan yang tidak sesuai dengan ketentuan Islam contohnya adalah perusahaan yang memproduksi makanan non-halal. Atau perusahaan yang bekerja di pasar gelap. Yang menjadikan uang yang dihasilkan menjadi haram.

Dalam islam, halal dan haramnya apa yang manusia lakukan, makan dan dapatkan menjadi kunci dari berkah atau tidaknya hidup. Maka dari itu, banyak yang meragukan metode konvensional karena proses pengoperasian dan penghasilannya yang tidak jelas.

  1. Saham Konvensional

Saham konvensional sendiri merupakan kebalikan dari saham syariah. Saham dengan proses umum yang belum tentu halal dan baik pengoperasiannya.

Pengertiannya sama seperti saham pada umumnya, bahwa saham merupakan suatu bukti kepemilikan berupa surat penting atau dokumen yang menjelaskan kepemilikan atas pembelian saham perusahaan. Bedanya, saham ini tidak menerapkan prinsip syariah. Bisa saja perusahaan menjual barang-barang yang berhukum haram, atau proses penjualannya tidak sesuai dengan hukum Islam.

Memperdalam Pengetahuan mengenai Saham Syariah

Saham syariah ini diklaim lebih stabil dan lebih menjanjikan dibanding saham konvensional. Itulah mengapa orang Indonesia sudah mulai tertarik dan berpindah haluan pada saham syariah.

Mengenai kriteria yang harus dipenuhi, perusahaan harus menerapkan hal ini:

  1. Kegiatan Usaha

Kegiatan usaha yang harus diterapkan dalam perusahaan agar mendapat label syariah adalah dengan menerapkan kegiatan yang sesuai dengan ketentuan ajaran Islam. Kegiatan juga harus mengutamakan nilai moral. Perusahaan tidak boleh memperjualkan barang yang haram, seperti makanan dan minuman yang tidak diperbolehkan dalam Islam.

Lalu, perusahaan juga dalam melakukan transaksi harus sesuai dengan ketentuan dan tata cara Islam. Tidak boleh menipu, menyuap, berbunga, dan menimbun barang. Pastinya semua itu karena ada sebabnya, kegiatan-kegiatan itu bisa merugikan orang lain, dan juga merupakan ketidak adilan bagi sebagian orang.

  1. Rasio Keuangan

Rasio keuangan yang harus diterapkan oleh perusahaan ada dua:

  • 45% adalah angka maksimal perbandingan antara total uang dengan basis bunga dan total aset yang dimiliki perusahaan
  • 10% merupakan angka maksimal perbandingan pendapatan yang haram dari pendapatan total perusahaan

Mekanisme Jual Beli Saham Syari’ah

Saham dikatakan sesuai dengan ketentuan syariat bukan saja hanya karena faktor perusahaannya saja. Anda yang ingin membeli saham syariah memang harus memperhatikan hal-hal yang berkaitan dengan kegiatan dan keuangan perusahaan yang akan anda investasikan. Namun, cara anda membeli saham pun harus melalui cara yang baik dan tidak melanggar aturan agama agar dikatakan sah.

Saham biasa dijual belikan di pasar modal. Untuk memastikan sah tidaknya saham yang anda beli, anda juga harus memperhatikan pasar modal yang menjadi tempat jual beli yang anda pilih. Di zaman sekarang, pasar modal pun sudah memiliki variasi pasar modal syariah.

Pasar modal syariah memastikan antara perusahaan dan juga transaksi yang dilakukan. Transaksi yang digunakan harus menggunakan akad.

  1. Jual beli menggunakan akad Ba’i, dimana akad ini mempersilahkan penjual dan pembeli saham melakukan kegiatan tawar menawar yang wajar.
  2. Jual beli dinilai sah apabila penjual dan pembeli saham menyepakati penawaran, baik dari harga, produk, mekanisme maupun yang lainnya
  3. Pembeli saham diperbolehkan dan sah apabila menjual saham, meskipun administrasi saham yang dibeli belum lunas
  4. Jual beli tidak boleh menyimpang dari aturan-aturan agama Islam

Adapun prinsip-prinsip yang harus dipegang penjual dan pembeli agar saham yang dibeli tetap sesuai prinsip syariah adalah:

  1. Kegitan investasi diperbolehkan apabila kegiatan usaha pada saham yang dibeli halal, tidak menyalahi aturan agama dan dapat bermanfaat. Dengan manfaat yang ditimbulakan pun dapat dibagi antara penjual dan pembeli saham
  2. Alat pertukaran transaksi yang disahkan adalah berbentuk uang, dan harus menggunakan alat tukar (uang) yang sama antara penjual dan pembeli saham
  3. Tidak diperbolehkan ada keraguan saat melakukan akad, seperti apabila salah satu dari penjual atau pembeli saham merasa tertekan atau belum ingin menyepakati akad, maka akad bisa diundur atau bahkan dibatalkan
  4. Penjual dan pembeli saham harus menghindari resiko kerugian apabila resiko tersebut bisa dihindari, dan tidak diperbolehkan apabila menimbulkan kerugian padahal masalahnya sebenarnya dapat diatasi
  5. Baik dari segi penjual, pembeli, maupun penghubung (Bursa) tidak boleh melakukan kecurangan dan menyebabkan gangguan yang disengaja

Saham syariah dan saham konvensional dapat sangat terlihat berbeda jika ditelaah lebih mendalam. Banyak yang menyangka perusahaan yang mereka investasikan baik dan tidak menyalahi aturan karena mereka tidak melihat pengoperasiannya secara detail. Bahkan untuk akad pun ada aturannya. Dikhawatirkan untuk perusahaan yang belum dapat memenuhi target syariah masih menggunakan metode yang salah di dalamnya.

Berbisnis merupakan hal yang tidak dilarang oleh agama, bahkan dianjurkan. Yang terpenting adalah bagaimana pengelolaannya, penjualannya, yang harus selalu didasari oleh hukum syariah.

Bagaimana, tertarik untuk beralih ke saham syariah? Ada baiknya untuk memperdalam pengetahuan saham syariah dan jangan lupa untuk mempelajari dasar hukumnya lagi. Semoga penjelasan pengertian saham syariah di atas dapat membantu.

10 thoughts on “Perbedaan Saham Syariah dan Konvensional Yang Harus Kamu Ketahui”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *