Perbedaan Krisis, Resesi dan Depresi Ekonomi

Mencari tahu mengenai perbedaan krisis, resesi dan depresi ekonomi, memastikan bahwa anda sudah mengetahui perjalanan ekonomi selalu mengalami naik turun. Ada kalanya suatu negara mengalami kemajuan, dan juga kemunduran ekonomi. Hal itu juga dapat dirasakan dalam lingkup dunia. Biasanya karena ada masalah serius yang menjadikan ekonomi dalam wilayah itu menjadi terpengaruh.

Perbedaan Krisis, Resesi dan Depresi Ekonomi

Siapa yang belum mengetahui perbedaan dari ketiganya? Ketiganya memiliki makna yang berbeda tentunya dan alasan yang berbeda juga yang menyebabkan kondisi itu. Seperti halnya krisis, krisis adalah ketika ekonomi mengalami penurunan tajam yang terjadi di suatu negara. Hal ini menjadi satu kondisi yang banyak ditakuti karena akan berdampak pada semua orang di wilayah yang terkena krisis itu. Baik masyarakat maupun pemerintah sekaligus.

Mengapa bisa terjadi krisis ekonomi? Biasanya suatu negara mengalami krisis ekonomi karena properti dan juga harga saham mengalami penurunan yang terus menerus. Inflasi juga dapat mempengaruhi krisis ekonomi karena harga barang menjadi naik turun. Kebutuhan pokok harganya sangat tinggi dan nilai tukar juga sangat tinggi.

Lalu apa lagi? Karena ekonomi yang turun, akan banyak pegawai yang dipecat dari pekerjaannya dan menyebabkan pengangguran yang melimah. Biasanya mencapai lebih dari 50%, tinggi sekali bukan? Jika pengangguran tinggi, sedangkan kebutuhan diperlukan sehari-hari, maka akan menimbulkan yang namanya krisis karena tidak ada keimbangan keluar dan masuknya uang.

Krisis ini masih berada di atas 0% dan belum mencapai (-) minus dalam jangka pendek. Biasanya di bawah 5% sudah bisa dikatakan sebagai krisis ekonomi. Sedangkan apabila mencapai di bawah 0%, itu dinamakan resesi.

Kemudian yang kedua ada resesi ekonomi. Apa itu?

Apabila krisis terjadi dalam jangka panjang, yaitu mencapai II kuartal. Jadi, resesi adalah penurunan ekonomi yang lebih lanjut dari krisis ekonomi.  Kondisi ekonomi saat resesi lebih sulit dari waktu krisis. Pelaku usaha dan juga masyarakat juga semakin kesulitan. Pertumbuhan ekonominya mencapai minus.

Resesi ini terjadi biasanya karena adanya guncangan ekonomi, seperti disebabkan oleh bencana alam, bisa juga disebabkan karena serangan teroris. Seperti contohnya wabah corona yang sedang melanda dunia, mengakibatkan banyak negara mengalami ketiga hal ini. Pengangguran pun semakin parah sedangkan daya beli semakin turun.

Harga saham pun akan mengalami penurunan secara drastis dan akan kesulitan dalam menaikkannya. Biasanya hal ini terjadi karena banyak yang menunggu harga sampai pada titik terrendah. Inflasi dan deflasi yang tinggi pun akan mengakibatkan penuruna yang parah. Padahal inflasi biasanya dilakukan untuk memperkuat kerjasama, namun jika berlebihan pun akan menghancurkan ekonomi. Lalu, kepercayaan investor pun menjadi pengaruh kondisi resesi. Investor-investor asing akan cabut modal apabila tidak berjalan dengan baik.

Lalu, depresi ekonomi adalah apabila kuartal I pertumbuhannya sudah krisis, kuartal II mengalami pertumbuhan ekonomi yang minus atau resesi, dan kuartal III apabila berlanjut maka akan menjadi depresi ekonomi. Jadi, pertumbuhan ekonomi semakin dalam atau dalam artian semakin minus dan jangka waktunya lebih lama.

Karena resesi ekonomi adalah lanjutan dari krisis ekonomi, depresi adalah kelanjutan dari resesi ekonomi. Namun ini bukanlah suatu prestasi karena banyak yang harus dikorbankan. Krisis saja sudah banyak ditakuti, apalagi jika mencapai pada kondisi depresi. Pertumbuhan ekonominya terus menurun. Resesi saja sudah mencapai minus di bawah 0, depresi ini lebih parah dan lebih dalam lagi.

Seperti yang pernah terjadi di Amerika Serikat pada tahun 1929 yang terjadi depresi ekonomi terburuk hingga mencapai lebih dari -30%. Resesi hanya bertahan selama I atau II kuartal, sedangkan depresi ekonomi bisa mencapai bertahun-tahun.

Dampak depresi ini tentunya juga akan sangat parah. Pengangguran merajalela, perusahaan-perusahaan banyak yang bangkrut karena produksinya semakin kecil dan tidak banyak diminati. Sektor perbankan pun bahkan bisa sampai gulung tikar.

Cara Menghadapi Masa Krisis, Resesi dan Depresi Ekonomi

Cara menghadapi penurunan ekonomi adalah anda tidak boleh panik. Gunakan uang anda dengan lebih cermat dan jangan dihambur-hamburkan untuk hal yang tidak penting. Sisihkan uang anda untuk dana darurat. Ingat! Dana darurat. Tidak boleh digunakan untuk hal-hal yang kurang penting dan yang masih bisa diakali.

Anda juga harus tetap bergerak dengan mencari solusi. Memutarkan uang dengan tetap berhati-hati untuk memperbaiki ekonomi anda sendiri dan juga negara.

Investasi yang Tepat Di Masa Krisis, Resesi dan Depresi Ekonomi

Dalam penurunan ekonomi secara drastis, masih adakah investasi yang bisa dilakukan dan dapat menguntungkan? Tentu saja ada, seperti di bawah ini:

  1. Investasi saham defentif

Yaitu investasi pada perusahaan-perusahaan yang memproduksi kebutuhan-kebutuhan pokok seperti makanan, obat-obatan, perlengkapan rumah. Setiap harinya akan dibutuhkan dan perusahaan pasti akan mengeluarkan produk meski sedang dalam penurunan ekonomi. Karena sektor-sektor seperti itulah yang akan selalu dibutuhkan masyarakat. Contohnya apabila sektor yang memproduksi makanan berhenti maka nyawa yang akan jadi taruhannya. Apalagi cakupannya adalah satu negara. Jadi lebih aman dan akan rendah resiko ruginya.

  1. Investasi emas

Banyak yang setuju bahwa membeli emas untuk kebutuhan jangka panjang adalah pilihan yang tepat. Karena emas tidak tergerus inflasi dan deflasi seperti uang. Selain itu, emas juga dapat menjadi mata uang seluruh dunia tanpa harus menukarkannya seperti halnya uang, ada dolar ada rupiah yang akan terpaut harga yang lumayan jauh.

  1. Investasi obligasi

Selain saham, anda bisa memilih investasi obligasi. Dengan kondisi ekonomi yang lemah, pemerintah kemungkinan akan banyak mengeluarkan surat obligasi untuk melakukan pinjaman. Memang dengan kondisi ekonomi yang tidak baik, sepertinya tidak bisa mengandalkan pemerintah. Namun, hutang yang dimiliki pemerintah kecil resikonya untuk tidak dibayarkan pada jatuh tempo. Jadi, pastikan apabila anda ingin menginvestasikan uang anda pada obligasi, pilihlah pada sektor pemerintahan.

  1. Perumahan

Pada saat resesi atau penurunan ekonomi lainnya, harga rumah biasanya akan turun dengan cukup banyak. Banyak orang yang mulai menjual harta mereka termasuk rumah karena membutuhkan uang untuk bertahan hidup. Seperti halnya saham, anda bisa membelinya dengan harga yang rendah danmenjualnya dengan harga yang tinggi.

Jadi apabila ekonomi sudah berhasil teratasi, harga rumah akan kembali naik dan anda bisa mendapatkan untung dari itu.

  1. Dolar

Dolar Amerika merupakan uang yang paling stabil tanpa bisa tergerus inflasi seperti banyak negara lainnya seperti Indonesia. Indonesia mudah sekali mengalami kenaikan nilai tukar dolar sehingga menyebabkan harga barang-barang semakin naik.

Krisis, resesi dan depresi ekonomi merupakan tingkatan penurunan ekonomi yang sangat mengkhawatirkan. Namun anda harus tetap bergerak jika hal itu terjadi. Seperti menggunakan kesempatan untuk berinvestasi pada hal-hal yang sudah dijelaskan di atas. Dan tetap pertimbangkan resikonya. Demikian perbedaan krisis, resesi dan depresi ekonomi. Semoga bermanfaat.

Tags:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *