Pengertian Technical Correction Saham Yang Harus Anda Pahami

Saham sepertinya sudah tidak asing lagi di telinga Anda, namun pengertian technical correction dalam saham mungkin masih tidak familiar didengar oleh Anda. Saham memang memiliki beragam istilah dan sebutan, tak terkecuali dengan technical correction. Dalam dunia pasar modal, yang dimaksud dengan technical correction sendiri merupakan penurunan harga saham yang terjadi dalam pasar modal. Penurunan harga ini bisa mengindikasikan berbagai macam kejadian.

Dengan technical correction, harga pasar saham yang ada secara tidak langsung dikoreksi melalui penurunan harga. Trend dan pola yang sudah tidak berlaku akan mengalami penurunan harga atau permintaan yang cukup signifikan, biasanya sampai 10% namun tidak melebihi 20%. Mereka yang sahamnya terkena technical correction perlu waspada karena bisa jadi harga saham terjun bebas dan tidak ada keuntungan yang tersisa. Untuk memahami technical correction lebih jauh, Anda bisa membaca penjelasan di bawah ini.

Pengertian Technical Correction dalam Saham dan Cara Melihatnya

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, technical correction disebut sebagai penurunan harga saham dalam pasar modal. Ketika harga saham mengalami penurunan, maka harga yang dijual dalam pasaran juga akan mengalami pengurangan permintaan. Akibat dari pengurangan permintaan tersebut menyebabkan berkurangnya minat membeli saham yang diperjualbelikan oleh suatu perusahaan. Karena hal tersebut, sebuah perusahaan bisa jadi mengalami kerugian yang cukup signifikan.

Technical correction juga merupakan sebuah tanda bahwa tren atau pola bisnis yang dilakukan mengalami kurangnya kepercayaan dan minat di masyarakat. Sehingga, hal tersebut berdampak pada saham yang terjual di pasar modal. Sebagai contohnya, perusahaan yang memproduksi permen karet akan mengalami kenaikan harga saham karena banyaknya orang yang melihat jika usaha permen karet merupakan usaha yang menjanjikan.

Namun, apabila minat masyarakat atau konsumsi masyarakat terhadap permen karet menurun, maka harga sahamnya juga akan ikut turun. Tak berselang lama, harga sahamnya menjadi stabil dan turun kembali. Begitulah technical correction bekerja. Technical correction datang dengan tiba-tiba dan tidak bisa diprediksi kedatangannya. Bagi sebagian investor, technical correction hanya cukup diseimbangkan dengan performa perusahaan atau konsumsi perusahaan.

Namun, technical correction bagi trader sangat memengaruhi profit yang didapatkannya. Karena tidak bisa diprediksi, technical correction akan sangat menentukan rugi atau untungnya saham yang dijual oleh trader. Contoh kecilnya saja, Anda memiliki saham A dan berniat untuk menjualnya besok. Namun, karena adanya technical correction, profit yang didapatkan berkurang sebesar 20%. Dalam pasar modal, prosentase tersebut terbilang cukup besar.

Sehingga, awalnya Anda berusaha mendapatkan keuntungan yang sudah diprediksi, Anda malah mengalami kerugian yang signifikan. Tentu kejadian seperti ini tidak ingin dialami oleh trader atau investor manapun di berbagai belahan dunia. Semua trader dan investor hanya ingin harga saham yang dimilikinya stabil, bahkan jika mengalami fluktuasi sekalipun, itu tidak jatuh jauh dari harga prediksi. Maka dari itu, penting untuk mengetahui tanda-tanda technical correction pada saham yang Anda punya.

Tanda-Tanda Technical Correction

Kecenderungan kenaikan harga dalam saham dapat dibaca dengan grafik atau rumus matematis. Namun, membaca tanda-tanda technical correction dapat dilakukan dengan berbagai cara. Mulai dari grafik, minat pasar, histori masa lampau, hingga fenomena penawaran saham saat itu juga. Jika Anda menemui beberapa tanda-tanda di bawah ini, Anda mungkin harus memahami bahwa technical correction bisa saja terjadi tanpa Anda ketahui lebih lanjut.

  1. Tanda paling umum terjadinya technical correction adalah dimana saat harga turun dalam jangka waktu pendek dan tidak berlangsung lama. Beberapa minggu setelahnya, harga menjadi stabil lagi. Namun, harga akan kembali turun hingga beberapa kali. Frekuensi naik turun harga cukup sering terjadi apabila terjadi technical correction.
  2. Technical correction dihindari oleh kedua jenis investor, namun lebih sering dihindari oleh investor jangka pendek seperti trader. Itu dikarenakan, investor jangka pendek akan menjual saham menjadi bentuk uang dalam waktu dekat. Terjadinya technical correction akan membuat selisih yang didapatkan menjadi lebih sedikit dibanding tidak adanya technical correction.
  3. Banyak saham yang didiskon juga merupakan tanda technical correction terjadi. Perusahaan berusaha menutupi harga yang melemah dengan menguatkannya kembali melalui diskon-diskon yang diberikan. Hal tersebut dapat dikatakan sebagai jalan ninja perusahaan dalam meminimalisasi terjadinya technical correction atau dampak terjadinya technical correction.
  4. Investor akan mengubah portofolio yang mereka susun karena potensi technical correction. Saham yang dianggap tidak relevan lagi akan dirombak oleh para investor di dalam portofolionya. Kejadian seperti ini dianggap sebagai tanda-tanda akan datangnya technical correction dalam waktu dekat. Dimana, para investor sudah mulai sibuk mengubah portofolio yang mereka miliki untuk meminimalisasi kerugian yang ada.

Pola Technical Correction

Setiap peristiwa yang terjadi dalam pergerakan saham selalu memiliki pola yang dapat kita amati. Khusus untuk technical correction sendiri, pola yang terjadi berkaitan dengan sentiment dan keadaan psikis para investor. Para ahli menyebutnya sebagai Elliot Theory atau Elliot Waves. Mereka percaya bahwa ketidakpercayaan investor terhadap sesuatu dapat membuat penurunan harga yang ada di pasar modal dan membuat technical correction terjadi dan datang tiba-tiba.

Mengingat bahwa saham sendiri adalah aset representatif dalam perusahaan, maka banyak orang melihat untung atau tidaknya perusahaan dari performa yang perusahaan lakukan. Jika perusahaan melakukan tindakan tiba-tiba seperti memutus hubungan kerjasama dengan partner-nya saja, maka harga saham juga akan terjadi perubahan. Begitu sentimennya investor sehingga technical correction yang ada dibentuk karena kekhawatiran dari investor itu sendiri.

Maka dari itu, fenomena ini sering disebut sebagai Elliot Waves karena pencetusnya yaitu R.N. Elliot adalah yang pertama kali mencetuskan teori bahwa pergerakan harga saham, naik turunnya harga saham, disebabkan oleh keadaan psikis investor. Selain itu, pola technical correction dapat dilihat dari tren yang berubah dalam jangka waktu yang dekat. Mulai dari tren tersebut mengalami kenaikan dan penurunan, seperti yang disebut dalam Teori Dow.

Contoh Konkrit Technical Corrections

Dalam kurun waktu 1980 sampai dengan 2010, telah terjadi sebanyak 30 kali technical corrections. Technical correction yang dimaksud hanya berlaku di Amerika Serikat. Puncaknya, technical correction terjadi di pertengahan tahun 2020 karena pandemic COVID-19 yang membuat banyak penurunan drastis saham di seluruh dunia. Bahkan, S&P 500 yang merupakan indeks saham AS mencatat 34% perusahaan mengalami technical correction.

Terjun ke dunia pasar modal dapat memberikan benefit yang cukup banyak jika Anda mengetahui kapan penurunan dan kenaikan harga serta stabilitas yang dihasilkan. Namun, memahami seutuhnya jika harga saham bisa mengalami penurunan harga perlu diketahui bagi setiap investor baik itu investor jangka panjang atau jangka pendek. Tidak akan keuntungan secara terus menerus, pun juga tidak ada kerugian terus menerus. Dengan memahami pengertian technical correction dalam saham, semoga Anda menjadi lebih paham tentang saham.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *