Divestasi adalah? Pengertian Divestasi dalam Investasi Pasar Saham

Apa itu divestasi? Para investor banyak yang menanyakan mengenai pengertian divestasi dalam investasi pasar saham dan dampaknya ketika mereka melakukan investasi saham. Sederhananya, divestasi saham merupakan kebalikan dari investasi. Jika investasi saham adalah kegiatan untuk membeli saham atau menjual saham bagi perusahaan dalam rangka menambah keuntungan. Sedangkan, divestasi saham sendiri berarti mengurangi jumlah saham yang dibeli atau dijual secara publik oleh perusahaan yang bersangkutan.

Divestasi tidak melulu berkaitan dengan kerugian yang dialami perusahaan. Tidak juga berhubungan dengan kebangkrutan karena aset yang dibuka untuk dibeli publik ditarik dan tidak diperjualbelikan untuk sementara. Ada banyak alasan mengapa perusahaan melakukan divestasi, salah satunya yaitu karena perubahan strategi perusahaan. Jika Anda ingin mengetahuinya lebih lanjut, Anda bisa membaca penjelasan di bawah ini.

Pengertian Divestasi dalam Investasi Pasar Saham Secara Lengkap

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, divestasi saham merupakan aktivitas pemberhentian saham yang diperjualbelikan di publik. Bagi perusahaan, divestasi secara lebih jelas dilakukan dengan melakukan pengurangan aset perusahaan. Investasi saham memang menguntungkan, terlebih jika terdapat margin atau selisih yang besar dalam satu kertas saham. Bayangkan jika Anda memiliki 100 kertas saham dan tiap kertasnya mengalami keuntungan Rp 1.000, maka Anda mendapatkan total keuntungan sebesar Rp 100.000.

Itu baru 100 kertas saham atau setara dengan 1 lot. Belum lagi, jika Anda memiliki lebih dari 5 lot atau 500 lembar saham dan menyimpannya selama 5 tahun. Maka keuntungannya akan berlipat ganda. Dengan kemungkinan seperti ini, sudah jelas bahwa melakukan investasi saham menjanjikan investor dan perusahaannya untuk mendapatkan profit yang lebih besar lagi dari yang sebelumnya sudah didapatkan. Produksi jalan, pemegang saham senang.

Namun terkadang, lembar saham yang diperjualbelikan dapat mendatangkan kerugian yang cukup signifikan bagi perusahaan. Ada beberapa aset yang harus perusahaan bayar pajaknya dan rawat. Perawatan aset tersebut membuat perusahaan harus merogoh kocek lebih dalam agar lembar saham yang ada tidak mengalami penurunan harga. Sehingga, apabila perawatan aset dan pajak yang dibayar dirasa tinggi, maka perusahaan dapat melakukan divestasi.

Sebenarnya, masih banyak faktor atau alasan yang membuat perusahaan melakukan divestasi saham. Tetapi, secara umum, alasan utama perusahaan menerapkan divestasi adalah untuk menjaga kestabilan aset perusahaan. Selain itu dengan divestasi saham, perusahaan semakin mengetahui kebutuhan yang diperlukan oleh perusahaan. Yang kemudian, membuat saham yang tidak begitu memiliki harga dengan profit tinggi ditarik atau didivestasikan.

Alasan Perusahaan Melakukan Divestasi

Dalam melakukan divestasi saham, perusahaan memiliki motif dan caranya tersendiri. Bagi perusahaan yang skalanya nasional atau internasional, divestasi saham dilakukan dengan alasan untuk merampingkan aset. Sehingga, anggaran yang dirancang untuk tahun kedepan bisa lebih dimaksimalkan. Berbeda dengan perusahaan yang skalanya masih regional. Divestasi yang dilakukan ditujukan untuk menjaga aset dan mempertahankan keuntungan yang stabil. Lebih lengkapnya, berikut alasan-alasan perusahaan melakukan divestasi.

  1. Perusahaan ingin fokus untuk meningkatkan keuntungan

Saham yang dibuka dan diperjualbelikan di bursa saham merupakan cara perusahaan untuk bisa bertahan dan tetap berproduksi, bukan meningkatkan keuntungan. Profit perusahaan sendiri lebih banyak diambil dari saham kepemilikan perusahaan, bukan saham yang dijual. Semakin besar saham yang diperjualbelikan, maka semakin sedikit keuntungan yang bisa perusahaan dapatkan. Itu sebabnya mengapa perusahaan selalu menerapkan sistem 70% – 30% atau 60% – 40%. Yang dimana, 30% dan 40% adalah besaran saham yang dapat dibeli oleh investor.

Perusahaan tidak bisa melakukan kepemilikan tunggal. Namun disatu sisi, perusahaan juga tidak bisa membiarkan saham perusahaannya bertebaran tanpa jumlah yang jelas. Dengan divestasi, saham secara tidak langsung dikontrol agar aset dan keuntungan bersih yang dimiliki perusahaan semakin terlihat. Dengan begitu, kondisi keuangan perusahaan menjadi lebih baik dan keuntungan yang didapatkan akan semakin meningkat. Perlu diingat bahwa divestasi tidak menarik seluruh saham yang ada. Perusahaan dapat menentukan saham mana yang perlu ditarik agar aset yang tidak begitu dibutuhkan akan dikesampingkan terlebih dahulu.

  1. Tidak ingin ikut campur dalam pergerakan negatif

Saat melepas lembar saham ke bursa saham, mau tak mau perusahaan harus bisa mengikuti pergerakan yang ada di bursa saham. Seperti, berkompetisi dengan perusahaan lain, memantau pergerakan saham lewat IHSG, mengetahui potensi penurunan dan kenaikan harga saham, dan sebagainya. Kegiatan-kegiatan ini yang merupakan hal yang tak bisa dilepaskan dari bisnis saham. Karena ketatnya persaingan yang ada, tak jarang oknum nakal mengajukan “saham gorengan” ke bursa.

Saham gorengan yang disebutkan adalah saham yang sebenarnya tidak menguntungkan, namun direkayasa menjadi saham yang profitable. Biasanya, saham gorengan dikeluarkan oleh perusahaan yang memiliki nama yang cukup besar. Kedudukan perusahaan tersebutlah yang membuat saham gorengan tersebut melesat keatas hingga merusak kondisi pasar saham. Akibatnya, banyak perusahaan yang tidak merekayasa harga saham menjadi turun harga karena insiden tersebut. Kepercayaan investor juga bisa rusak karena hal tersebut.

Sehingga, perusahaan yang memutuskan untuk melakukan divestasi bisa jadi merupakan perusahaan yang tidak ingin terlalu ikut campur dalam pergerakan yang negatif. Perusahaan tersebut butuh waktu kembali untuk melepaskan lebih banyak lembar saham agar menghindari kerugian yang ditimbulkan. Tentu, ini membutuhkan waktu yang lama dan strategi yang matang untuk bisa kembali melakukan jual beli saham di ranah publik.

  1. Membutuhkan dana tambahan

Ketika perusahaan melakukan divestasi, ada beberapa aset yang dijual karena saham yang dibuka ditarik kembali dan tidak melantai lagi di bursa saham. Aset yang dijual tersebut dapat menjadi kas bagi perusahaan untuk bisa melakukan pengembangan dan usaha lebih jauh dan lebih baik lagi. Langkah ini sangat cocok dilakukan apabila perusahaan tersebut memang membutuhkan dana tambahan untuk menjalankan kegiatan operasionalnya.

Metode dalam Divestasi

Divestasi memiliki beberapa metode. Metode yang dimaksud diantaranya adalah:

  1. Penjualan, cara paling mudah dalam melakukan divestasi. Biasanya dilakukan dengan penjualan aset, penjualan barang-barang perusahaan yang tidak dipakai kembali, dan menjual unit bisnis yang sekiranya menguntungkan;
  2. Spin-off atau alternatif, mengubah divisi perusahaan menjadi entitas dengan satu buku keuangan dengan perusahaan induk. Sehingga, saham yang masuk tetap menjadi kepemilikan perusahaan spin-off dan perusahaan induk;
  3. Tracking stock, melakukan pembagian profit pada divisi yang memberikan kontribusi paling besar pada keuntungan perusahaan. Semakin lemah kinerja divisi, maka dividennya akan dikurangi untuk divisi tersebut;
  4. Carve out, entitas dan buku keuangannya terpisah. Asetnya dijual ke masyarakat, namun masih dikendalikan

Dampak Divestasi

Beberapa dampak divestasi yang akan langsung terasa di perusahaan adalah:

  1. Menyeimbangkan kembali neraca keuangan;
  2. Berkurangnya potensi pendapatan;
  3. Perubahan strategi dan adaptasi perusahaan atas sesuatu;
  4. Dalam kasus tertentu, akan terjadi perombakan dalam divisi yang bisa menyebabkan efisiensi pekerja yang ada;
  5. Kas yang bertambah karena terjualnya aset-aset tak terlihat dan tak diketahui sebelumnya.

Semoga informasi tentang pengertian divestasi dalam investasi pasar saham dapat membantu Anda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *