Peluang Usaha dan Potensi Ekspor Papua Barat – Manokwari

Peluang usaha dan potensi ekspor Papua Barat – Manokwari terus dimaksimalkan oleh pemerintah daerah setempat. Sejak lima tahun lalu, produksi pertanian dan kelautan serta sumber daya alam lainnya telah dieksplorasi sehingga akhirnya Manokwari berhasil melakukan ekspor perdana pada bulan Desember 2020 lalu.

Ekspor perdana tersebut adalah produk kelautan yaitu kepiting hidup. Produk ini diekspor ke Singapura. Hal ini tentu merupakan tren positif dari meningkatkan kemakmuran Indonesia Timur, khususnya pulau di ujung timur Indonesia ini.  Namun, tentu bukan hanya kepiting hidup yang menjadi andalan Manokwari.

Peluang Usaha dan Potensi Ekspor Papua Barat – Manokwari Yang Paling Mumpuni

Ekspor daerah di Manokwari merupakan kerjasama apik antara pelaku UMKM, serta beberapa lembaga di pemerintahan daerah. Pihak Bea Cukai pun membuka direct call export atau rute ekspor langsung ke Singapura untuk pertama kalinya.  Fasilitas ekspor untuk produk kelautan tersebut sempat hanya menjadi mimpi bagi pelaku UMKM, karena memang belum ada fasilitasi memadai di tahun-tahun sebelumnya.

Selain itu, ekspor perdana ini juga telah melalui proses panjang, sejak tahapan koordinasi hingga sinergi pemerintah daerah, bersama pelaku UMKM. Sebelumnya para nelayan memang belum memahami prosedur ekspor mereka. Selain itu, mereka juga belum berani bersaing. Padahal, produk kelautan, terutama kepiting hidup di Manokwari, melimpah  serta berkualitas apik.

Alasan utama mengapa para pelaku UMKM masih ragu untuk melakukan ekspor adalah kekhawatiran adanya biaya-biaya yang ada di luar jangkauan mereka. Namun demikian, hal ini sudah berubah. Pemerintah bersikap transparan dalam pelaksanaan prosedur ekspor, dimana semua pungutan liar sudah tidak lagi mencekik para calon eksportir.

Ekspor perdana ini juga tidak lepas dari dukungan stakeholder yang memudahkan proses ekspor, sehingga barang sampai di Singapura tanpa keterlambatan. Tentunya, produk kelautan Manokwari bukan hanya kepiting hidup. Nantinya, produk yang diekspor meliputi produk laut lainnya. Ekspor perdana kepiting hidup ini mencapai 120 ekor.

Ekspor Rumput Laut

Satu lagi produk kelautan yang sangat diandalkan pemerintah provinsi Papua Barat adalah rumput laut. Memang, saat ini proses ekspor belum dapat dimulai, namun ada potensi untuk segera memaksimalkan produk ini sebagai penambah devisa negara. Memang, perlu ada anggaran tambahan selain bersumber dari APBD provinsi. APBN dari pemerintah pusat juga sangat dibutuhkan.

Terlebih, pemerintah provinsi Papua Barat juga mendapat suntikan dana dari beberapa lembaga luar negeri. Bantuan tersebut cukup membantu petani dan nelayan dalam pengembangan produksi mereka.

 Produk Ekspor Non Migas Lainnya

Tak banyak yang mengetahui bahwa Manokwari sangat kaya akan hasil alam non migas. Salah satunya adalah biji kakao. Biji kakao ini sudah sejak lama diekspor ke beberapa negara di benua Eropa. Bahkan, ekspor komoditas ini tidak terdampak pandemi sama sekali.

Permintaan pasar sangat tinggi, baik di tingkat domestik maupun internasional. Negara-negara yang mengimpor biji kakao termasuk Inggris, Belanda dan Belgia. Peminat biji kakao di beberapa kawasan domestik adalah Bali, Jakarta dan juga Makassar. Namun demikian, ‘pekerjaan rumah’ dari pemerintah daerah adalah meningkatkan produksi biji kakao yang masih belum banyak.

Lahan yang sangat luas, yaitu 1000 hektar, di kawasan Ransiki masih belum semua ditanami biji kakao. Hanya 200 hektar saja yang selama ini menghasilkan biji kakao premium. Dua hektar lahan biji kakao tersebut menghasilkan empat ton dalam sebulan. Jumlah ini dianggap belum dapat memenuhi permintaan pasar secara keseluruhan.

Upaya pemerintah untuk menambah jumlah tanaman dan juga tenaga kerja masih terus dilakukan, sehingga produksi dapat meningkat.  Peningkatan ini sedang giat dilakukan, karena permintaan tidak kunjung surut selama awal pandemi hingga awal tahun 2021. Saat ini, pengiriman ke luar negeri hanya enam ton sebulan. Padahal, permintaan dari Jakarta saja bisa mencapai ratusan ton setiap bulannya.

Permintaan dari beberapa kawasan di Indonesia lainnya juga masih dalam proses ‘antrean’. Tingginya permintaan ini sebenarnya adalah fenomena positif.  Namun demikian peningkatan produksi masih menjadi kendala. Karena itulah, pemerintah turun tangan dalam mengucurkan dana rehabilitasi lahan.

Dana yang diterima memang belum maksimal, karena anggaran pemerintah pusat dan daerah banyak terpakai untuk pemberantasan Covid-19. Namun demikian, upaya ini sudah menjadi langkah positif yang membuat para petani semakin giat. Tentu hal ini karena mereka juga merasa bahwa peningkatan taraf hidup mereka juga akan segera terlaksana.

Selama ini, Manokwari hanya mengirimkan biji kering kakao. Namun, rencana ke depan adalah pengolahan biji kakao dengan menggunakan mesin produksi bantuan dari Bank Indonesia. Koperasi Ibier Suth di Manokwari sudah mulai mengoperasikan alat ini, sehingga biji kakao dapat diolah dalam bentuk bubuk atau cair.

Biji kakao memang menjadi andalan Manokwari, meski proses ekspor baru berjalan beberapa tahun terakhir. Produksi biji kakao sempat mencapai 1.000 dalam sebulan, meski kini mengalami penurunan drastis.  Tentu, semua petani di lahan biji kakao berharap adanya peningkatan produksi, untuk kesejahteraan mereka.

Selama ini, pengelolaan kawasan seluas 200 hektar sudah menghasilkan hampir 3 miliar rupiah. Tentu, jika semua lahan dimaksimalkan, maka petani dapat menikmati hasilnya dengan baik. Karena itulah, dukungan pemerintah pusat juga sangat diperlukan karena kakao adalah komoditas unggulan dari Manokwari dan beberapa kawasan di Papua Barat.

Pihak Pemerintah provinsi sudah memberikan alokasi dana di tahun 2021 untuk pengembangan lahan kakao yang tersebar di beberapa tempat. Hal ini akan terus dilakukan, hingga lahan kosong dapat dimaksimalkan dengan baik.  Jika tahun 2020 saja, jumlah kakao yang diekspor sudah mencapai kurang lebih 90 ton, tentu di tahun 2021 harus ada peningkatan jumlah ekspor.

Keberadaan koperasi adalah syarat utama yang harus dipenuhi oleh importir. Karena itulah, pemerintah provinsi telah memaksimalkan koperasi utama di Manokwari untuk melakukan pengelolaan biji kering. Ekspor memang dapat dilakukan apabila importir memiliki badan hokum. Karena itulah, para petani sudah mendapatkan wadah berbadan hokum, yaitu koperasi biji kakao di Manokwari.

Program Investasi Hijau

Sejauh ini, Pemprov Papua Barat memang sedang menggalakkan investasi hijau atau produksi hasil alam. Selain biji kakao, produksi kopi, buah pala, dan juga sagu merupakan komoditas yang dapat diekspor saat produksi sudah meningkat. Selama ini, jumlah produksi masih terbatas pada kebutuhan pasar domestik saja.

Soal sumber daya manusia, tidak ada kendala karena tenaga sangat banyak. Namun, pengembangan lahan masih memerlukan dana besar, dimana pengolahan lahan juga memerlukan biaya besar. Tetapi, pemerintah provinsi Papua Barat sangat optimis bahwa program ekspor tanaman yang menjadi program investasi hijau dapat meningkatkan kesejahteraan warga.

Peluang usaha dan potensi ekspor Papua Barat – Manokwari tentu menjadi tren positif untuk bangsa Indonesia. Dengan meningkatnya produksi  alam di berbagai kawasan, tentu akan menambah pemasukan bagi negara pada umumnya. Tentu, kesejahteraan petani lokal juga akan meningkat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *