Ketahui Ciri-Ciri Trader yang Tidak Punya Trading Plan

Jika Anda memutuskan untuk menjadi seorang trader, Anda harus mengetahui ciri-ciri trader yang tidak punya trading plan. Bukan tanpa alasan hal tersebut harus diketahui oleh Anda. Pasalnya, trader yang tidak punya trading plan seperti menggadaikan diri sendiri. Yang Anda punya hanyalah sedikit modal. Sisanya, seperti rencana dan prediksi Anda nol besar.

Bagaimanapun juga, trader yang tidak memiliki trading plan punya faktor yang mendorongnya untuk jadi seperti itu. Ada yang tidak ingin belajar, kesulitan dalam memahami cara menyusun trading plan, dan alasan lainnya yang menghambat perkembangan mereka untuk menjadi trader sejati. Alasan seperti ini harus dihilangkan demi menjaga aset yang sudah ditanamkan.

Padahal, trading plan adalah jalan awal untuk menentukan seberapa banyak keuntungan yang bisa Anda ambil. Semuanya tidak akan bisa diprediksi jika Anda tidak membuat trading plan. Untuk memahami ciri-ciri trader yang tidak punya trading plan, Anda bisa mengetahuinya lewat penjelasan lebih lanjut di bawah ini.

Ciri-Ciri Trader yang Tidak Punya Trading Plan: Pengertian Trading Plan

Sebelum masuk lebih jauh tentang ciri-ciri trader yang tidak punya trading plan, Anda harus memahami terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan trading plan. Umumnya, trading plan disebut sebagai perencanaan kegiatan trading untuk saham atau forex. Baik dalam saham maupun forex, orang biasa menggunakan trading plan untuk merencanakan strateginya.

Namun seiring bertambahnya orang yang tertarik dengan saham, trading plan biasa disebut sebagai trading plan saham. Tujuan trading plan saham sendiri adalah untuk mengetahui prediksi saham yang akan berjalan. Sehingga, ketika terjadi kenaikan atau penurunan, maka trader tidak akan mengambil keputusan yang membuat mereka berada dalam risiko.

Mudahnya, ketika harga saham naik, Anda tidak langsung senang kemudian menjualnya. Dibalik tindakan itu semua, Anda pasti akan menyesal ketika ternyata harganya menjadi 2 kali lipat lebih besar keesokan harinya. Sama halnya ketika harga saham Anda turun. Anda langsung bertekad untuk menjualnya.

Padahal, Anda sendiri belum mengetahui pergerakan harga saham tersebut kedepannya. Hal tersebut berlaku juga ketika Anda membeli saham. Sehingga, trading plan merupakan cara yang ampuh untuk bisa menentukan prediksi benefit yang akan Anda terima. Walaupun tidak tepat sepenuhnya, trading plan dapat membuat perencanaan trading Anda menjadi terarah.

Dalam trading plan, terdapat komponen titik entry, titik exit, dan juga stop loss. Titik entry atau yang biasa disebut titik masuk atau buy merupakan komponen dalam menentukan harga saat kita hendak membeli saham. Harganya ditentukan lewat analisis teknikal saham dan perkembangan grafik.

Hasil dari analisis tersebut akan menunjukkan kecenderungan harga saham. Yang kemudian, akan memudahkan Anda untuk menangkap momentum yang tepat dengan melihat tanda-tanda titik masuk tersebut. Berbeda dengan titik keluar atau exit (sell), Anda dapat menjual saham yang Anda miliki pada prosentase tertentu.

Anggaplah prosentase tersebut berkisar 20% – 40%. Jika selisih tersebut sudah didapatkan, Anda langsung bisa menjualnya sebelum harga saham tersebut turun kembali. Saham yang harganya turun akan mengurangi harga jual dan profit yang Anda dapatkan. Sehingga menentukan titik keluar juga sama pentingnya dengan titik masuk.

Adapun untuk stop loss berguna untuk memotong kerugian yang Anda alami saat saham terjun bebas. Anda tidak perlu menunggu atau berharap saham yang Anda miliki akan menguat. Jika memang sudah dalam kondisi kritis, Anda bisa langsung mengaplikasikan stop loss tersebut pada saham Anda.

Membuat Trading Plan

  1. Trading plan disusun dengan dua garis, yaitu garis support dan resistance. Garis support berguna untuk mengetahui batas bawah garis. Sedangkan, garis resistance berguna untuk mengetahui batas atas garis. Dengan mengetahui batas tersebut, Anda bisa mengacu pada harga-harga yang ada di garis sebelumnya.
  2. Jika memang harga saham mencapai garis support sebelumnya, maka Anda bisa langsung menjualnya.
  3. Sebaliknya, harga saham yang mencapai garis resistance dapat Anda beli saat itu juga.

Mudah Tergoda Membeli Saham

Sudah jelas jika trader tidak memiliki trading plan, maka mereka akan mudah terpancing dalam membeli saham. Saham apapun itu, baik itu saham yang masih baru dibuka ataupun saham yang sudah lama dijual di bursa saham. Trader yang tidak memiliki trading plan tidak akan paham saham apa yang akan mereka miliki.

Berbeda dengan trader yang sudah memiliki trading plan. Sedikit apapun lembar saham yang akan mereka beli, mereka akan mempertimbangkannya dengan matang. Hal tersebut dilakukan untuk meminimalisir kerugian yang akan mereka dapatkan.

Terlalu Keras Kepala

Diantara ciri-ciri trader yang tidak memiliki trading plan, terlalu keras kepala merupakan ciri yang paling sering ditemui. Menahan saham tanpa pertimbangan, merelakan saham karena sudah puas mencapai harga jual, adalah tanda bahwa mereka tidak memiliki trading plan yang terarah.

Trader yang sudah memiliki trading plan tidak akan membiarkan egonya menjadi penentu utama dalam transaksi saham. Jika saham yang dimilikinya sudah mencapai titik stop loss, maka mereka akan merelakan saham tersebut. Berlaku pula ketika saham mencapai titik resistance tertinggi. Mereka tetap hati-hati dan tidak langsung senang begitu saja.

Mencoba Semua Saham

Apakah Anda pernah menemui orang yang membeli semua saham tanpa memikirkannya lebih lanjut? Kemungkinan besar mereka tidak memiliki trading plan dan hanya mengikuti insting pribadi dalam membeli saham.

Mencoba semua saham dan memasukannya kedalam portofolio bukan berarti Anda akan mendapatan keuntungan. Kebalikannya, justru mungkin Anda akan mendapatkan kerugian karena analisa yang tidak mendalam tersebut.

Ikut-Ikutan Membeli Saham

Ciri yang satu ini menjadi sering kita temui ketika banyak orang berbondong-bondong untuk mencoba saham. Perlu ditekankan bahwa saham merupakan aset perusahaan. Ketika Anda sudah berani menanamkan modal didalamnya, maka Anda harus tahu seluk beluknya. Latah mengikuti tren hanya akan membuat Anda rugi karena tidak memahaminya lebih jauh.

Emosional Saat Saham Turun atau Naik

Trader yang tidak memiliki trading plan cenderung berapi-api saat saham turun dan menjadi berbunga-bunga ketika saham naik. Dalam melakukan trading, tindakan seperti ini harus dihindari. Pasalnya, harga saham sangat fluktuatif. Bisa saja hari ini harganya turun, besoknya harga sudah kembali stabil.

Sehingga, emosi yang baik harus tetap diutamakan ketika melakukan trading. Keputusan dengan dasar emosi tidak akan memberikan keuntungan apapun. Anda hanya akan menghabiskan tenaga dengan pertimbangan yang emosional.

Menjadi seorang trader memang bukanlah pekerjaan yang mudah. Ada risiko yang harus dipahami betul untuk bisa bertahan di pasar saham. Di sisi lain, menjadi trader juga tidak bisa begitu emosional. Anda juga harus mengandalkan logika dan rasionalitas di atas harapan serta kepercayaan.

Saham bukanlah mainan. Bagi sebagian orang yang mencobanya saja, mungkin saham adalah mainan. Namun jika Anda memang bersungguh-sungguh ingin mendalami keilmuan saham, maka sudah sepatutnya Anda tidak termasuk dalam ciri-ciri trader yang tidak punya trading plan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *