Pemula Wajib Tahu! Mengapa Harga Saham Suatu Emiten Susah Naik?

Mengapa harga saham suatu emiten susah naik? Saham adalah sebuah bukti kepemilikan terhadap suatu perusahaan. Sedangkan arti lengkap dari saham yaitu tanda penyertaan modal seseorang maupun jamak dalam sebuah perusahaan atau perseroan terbatas. Dengan kata lain, pihak tersebut memiliki klaim atas pendapatan perusahaan, aaet perusahaan, maupun hadir pada Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

Saham merupakan salah satu investasi jangka panjang, selain emas. Namun, pada kenyataannya investasi saham belum terlalu populer di kalangan masyarakat, khususnya awam. Hal tersebut didasari karena cara berinvestasi yang sedikit rumit dan juga harga saham yang fluktuatif.

Ada banyak contoh figur yang sukses hanya dengan mengandalkan portofolio saham, antara lain Warren Buffett dari Amerika Serikat dan juga Lo Kheng Hong di Indonesia. Akan tetapi, tidak sedikit pula pelaku pasar yang merugi akibat berinvestasi pada saham. Hal tersebut biasanya terjadi pada investor pemula.

Investasi saham berbeda dengan menabung ataupun deposito. Terdapat faktor-faktor yang menyebabkan harga saham naik atau turun. Hal ini tentunya berbanding terbalik dengan menabung atau deposito, di mana nasabah pasti akan mendapatkan keuntungan sesuai dengan dengan perjanjian dengan pihak bank.

Berarti lebih baik investasi di bank daripada saham? Tentu saja, tidak. Ada istilah high risk high return, yaitu resiko yang tinggi akan menghasilkan imbalan yang juga tinggi. Oleh sebab itu, wajib bagi calon investor yang ingin berinvestasi pada saham mempelajari hal-hal dasar yang mampu meminimalisir terjadinya resiko kerugian.

Adapun faktor yang menyebabkan harga saham suatu emiten susah naik dapat dilihat dari internal maupun eksternal.

Mengapa Harga Saham Suatu Emiten Susah Naik?

Faktor Internal

  1. Fundamental Perusahaan yang Buruk

Perusahaan yang memiliki fundamental yang buruk dapat menyebabkan harga saham turun. Begitupun sebaliknya, jika fundamental pada emiten tersebut baik tren harga naik dapat dengan mudah terwujud. Fundamental suatu perusahaan melibatkan banyak variabel yang dapat dianalisis. Itulah mengapa ada istilah analisis fundamental perusahaan.

Variabel yang harus diperhatikan antara lain:

  • Revenue Growth: Pertumbuhan pendapatan
  • EPS (Earning per Share): Rasio laba terhadap seluruh lembar saham yang beredar
  • EPS Growth rat Ratioio: Pertumbuhan laba EPS
  • PER (Price Earning Ration): Perbandingan harga saham terhadap laba saham per lembar
  • Price Earning Growth Ratio: Perbandingan harga saham terhadap laba perusahaan
  • Price/Sales Ratio: Perbandingan harga saham terhadap penjualan
  • PBV (Price Book Value): Perbandingan harga saham terhadap nilai buku
  • Debth Ratio: Rasio hutang perusahaan
  • Net Profit Margin: Margin keuntungan bersih perusahaan.
  1. Corporate Action (Aksi Korporasi Perusahaan)

Kebijakan perusahaan yang dilakukan oleh manajemen berperan penting dalam mengubah fundamental yang dapat mengubah fundamental perusahaan. Contoh aksi korporasi yaitu akuisisi, merger, right issue, ataupun divestasi.

  1. Tidak Melihat ada Masa Depan Berdasarkan Kinerja Perusahaan

Kinerja suatu perusahaan menjadi acuan bagi para investor dalam memilih emiten maupun analisis fundamental. Beberapa faktor penting perusahaan dapat dilihat dari Dividend Payout Ratio, PER, EPS, PBV  dan juga net profit margin.

Investor cenderung memilih emiten yang memiliki DPR yang tinggi karena memberikan imbal hasil yang lebih menjanjikan. Pada kenyataannya, DPR yang tinggi memiliki dampak pada harga saham. DPR yang tinggi berdampak pada net profit margin yang kecil dan harga saham menjadi stagnan.

Selain itu, EPS dan PBV juga memiliki andil dalam fluktuasi harga saham. EPS yang rendah dapat membuat investor berpikir ulang untuk membeli saham pada emiten tersebut, yang berdampak pada order yang sepi dan harga saham turun.

Sementara PBV yang tinggi banyak diminati investor. Tetapi, tanpa analisis yang baik hanya akan menghasilkan resiko yang tinggi yaitu kerugian.

Faktor Eksternal

  1. Kondisi Ekonomi Makro

Kondisi ekonomi sangat berpengaruh terhadap naik turunnya harga saham suatu emiten. Faktor-faktor ekonomi makro antara lain:

  • Naik atau turunnya suku bunga yang diakibatkan oleh Bank Sentral Amerika (Federal Reserve)
  • Naik atau turunnya suku bunga BI (Bank Indonesia).
  • Aktivitas Ekspor-Impor yang berperan dalam nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
  • Bencana alam.
  1. Fluktuasi Nilai Tukar Rupiah terhadap Mata Uang Asing

Faktor ini sering dihiraukan oleh investor pemula yang cenderung tidak peduli terhadap kurs rupiah. Dalam praktiknya, pelaku kegiatan ekspor impor sangat bergantung pada hal ini karena beban terhadap mata uang asing. Jika rupiah melemah, maka otomatis biaya operasional akan naik. Hal ini berpengaruh terhadap sulitnya harga saham naik.

Hal ini juga disebabkan karena pasar ekonomi Indonesia yang masih dikuasai oleh asing. Oleh karena itu, kurs rupiah yang lemah terhadap mata uang asing menyebabkan harga saham tak kunjung naik

  1. Kebijakan Pemerintah

Pentingnya peran pemerintah terhadap pertumbuhan suatu perusahaan terlihat dari kebijakan yang mampu mempengaruhi harga saham. Walaupun masih wacana atau belum terealisasi, Sebagai contoh, SWF mempengaruhi emiten-emiten yang berada di dalamnya.

  1. Panic Selling

Ketika melihat berita, para pelaku pasar cenderung akan panik jika melihat berita buruk tentang perusahaan tempatnya berinvestasi. Hal tersebut memicu untuk menjual sahamnya, yang berdampak harga saham menjadi turun. Tindakan ini terjadi karena panik, bukan analisa rasional. Hindari perilaku panic selling dengan mencoba menganalisis terlebih dahulu apakah emiten tersebut masih layak untuk dipegang atau tidak.

  1. “Pom-pom” Pasar

Aksi “pom-pom” atau bisa disebut sebagai manipulasi pasar kini semakin marak dilakukan. Para investor-investor bermodal besar maupun publik figur kerap melakukan manipulasi melalui media massa maupun media sosial untuk membuat saham “gorengan” seakan saham “blue chip”. Hal ini biasanya berawal dengan istilah rumor. Namun faktor ini hanya bersifat temporer atau tidak bertahan lama. Pada akhirnya, fundamental akan kembali mengambil kendali tren harga saham selanjutnya.

  1. Butuh Uang

Beberapa investor tidak membeli saham dengan uang yang aman dari pemakaian jangka pendek atau biasa disebut “uang dingin”. Investasi saham memerlukan kesabaran dalam prosesnya. Jika pada kondisi tertentu dimana investor harus menjual sahamnya, itu dapat berpengaruh terhadap sulitnya harga saham untuk naik.

  1. Margin Trading

Margin trading merupakan fasilitas yang disediakan oleh sekuritas yang memungkinkan nasabah membeli saham berkali-kali lipat dari jumlah dana yang tersedia. Perhitungan yang tidak sesuai dapat menyebabkan harga saham turun dan kerugian besar badi para investor.

  1. Short Selling

Istilah ini sangat populer di kalangan para investor. Membeli di pagi hari dan menjual pada hari yang sama merupakan salah satu contoh short selling. Hal ini berdampak buruk bagi emiten karena mempengaruhi modal perusahaan untuk mengembangkan usaha.

Untuk meminimalisir kerugian dalam berinvestasi, calon investor mampu melakukan beberapa hal, seperti:

  • Analisis fundamental.
  • Analisis Teknikal.
  • Memulai dengan membeli saham-saham blue chip.

Itulah pembahasan terkait pertanyaan mengapa harga saham suatu emiten susah naik? Pada kesempatan kali ini. Semoga bermanfaat dan semoga selalu diberikan perlindungan kesehatan. See ya!

Tags:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *