Daftar Perusahaan Publik, Terbuka, Tbk yang Delisting dari BEI

Daftar perusahaan publik, terbuka, Tbk yang Delisting dari BEI cukup dihindari oleh sebagian besar pemilik saham maupun perusahaan. Perusahaan yang mengalami Delisting, artinya dihapus secara resmi oleh Bursa Efek Indonesia (BEI), sehingga tidak bisa melakukan perdagangan saham ke publik.

Delisting menjadi resiko yang harus diterima oleh investor yang berani menanamkan modalnya dalam bentuk saham di beberapa perusahaan. Oleh sebab itu, investor harus menanamkan strategi yang baik untuk mengantisipasi saat terjadi Delisting agar tidak mengalami kerugian yang cukup besar.

Strategi Investor Mengantisipasi Masuknya Daftar Perusahaan Publik, Terbuka, Tbk Yang Deslisting Dari BEI

Kenali beberapa strategi yang bisa dilakukan saat menanamkan saham pada perusahaan yang mengalami Delisting.

Menjual Saham

Melepaskan kepemilikan saham bisa menjadi strategi untuk meminimalisir resiko menanamkan saham pada perusahaan yang berpotensi mengalami Delisting. Biasanya, bursa akan memberikan waktu selama kurang lebih 2 tahun agar para investor dapat melepaskan kepemilikan sahamnya.

Akan tetapi, proses yang dijalankan untuk melepas kepemilikan saham dalam kurun waktu yang diberikan oleh bursa tidak bisa dijalankan dengan mudah. Hal tersebut dikarenakan perusahaan belum tentu mau untuk membeli kembali saham yang telah dijual oleh investor sebagai publik.

Membiarkan Kepemilikan SahamTerkena Dampak Delisting

Apabila investor tidak dapat melakukan penjualan saham kepada perusahaan yang terkena Delisting, maka cara kedua ini mungkin bisa menjadi cara yang efektif namun tetap memiliki resiko.

Perusahaan Delisting berpotensi akan merugikan para investor, oleh sebab itu OJK sedang mengupayakan untuk setiap perusahaan mematuhi peraturan terkait dengan membeli kembali seluruh saham yang dimiliki publik. Namun, hal tersebut juga belum bisa dipastikan 100%, sehingga apabila tidak dapat direalisasikan, maka investor tetap merasakan dampaknya.

Mencegah

Cermat dalam memilih saham adalah hal yang wajib dilakukan oleh investor untuk mencegah terjadinya terkena resiko atas dampak perusahaan yang terdelisting.

Dimulai dari mempelajari track record perusahaan, mencari informasi terkait dengan kinerja, pelayanan, pengelolaan keuangan, dan yang lainnya. Informasi tersebut dapat dicari melalui situs BEI, pemberitaan di media sosial, surat kabar, maupun di website perusahaan itu sendiri.

Dengan mengetahui informasi sebanyak mungkin dari sebuah perusahaan, investor akan membuat pertimbangan yang cukup matang sebelum membeli saham di perusahaan pilihan.

Apa Itu Delisting?

Pengertian Delisting

Delisting merupakan sebuah tindakan untuk menghapus catatan perusahaan dari Bursa Efek Indonesia yang disebabkan karena saham tersebut sedang mengalami penurunan kriteria dan tidak memenuhi persyaratan untuk masuk ke dalam pencatatan BEI.

Selain itu, perusahaan yang terkena masalah hukum ataupun terlibat hutang yang sangat besar, artinya bermasalah berpotensi juga dikeluarkan dari pencatatan bursa.

Jenis Delisting

Delisting terbagi menjadi 2 jenis, diantaranya adalah :

  1. Voluntary Delisting

Delisting jenis ini, artinya perusahaan secara sukarela menginginkan tindakan penghapusan catatan saham dan perusahaannya dari daftar BEI. Biasanya, pihak melakukan hal tersebut bertujuan untuk mengubah perusahaan yang tadinya untuk publik menjadi perusahaan privat.

  1. Force Delisting

Kebalikan dari Voluntary Delisting, Force Delisitng membuat saham perusahaan yang mengalami beberapa hal untuk tidak memenuhi persyaratan pencatatan harus dihapus secara paksa.

Berikut beberapa hal yang menyebabkan saham perusahaan dinyatakan tidak memenuhi persyaratan :

  • Tidak tepat waktu dalam menyampaikan kewajiban mengenai pelaporan keuangan
  • Terlibat dalam utang dengan nominal yang sangat besar dalam jangka waktu yang panjang
  • Terlibat dalam masalah hukum yang tidak terselesaikan
  • Adanya ancaman dari keberlangsungan perusahaan
  • Tidak mematuhi peraturan berdasarkan ketentuan bursa lainnya
  • Adanya kerugian terus menerus di dalam buku perusahaan
  • Tidak beroperasi dalam jangka waktu yang cukup lama
  • Pendapatan operasional perusahaan dinyatakan tidak cukup memadai.

Beberapa perusahaan yang mengalami Delisting sepanjang 1 Januari hingga 30 Juli 2021, adalah sebagai berikut :

  • Leo Investments Tbk. (ITTG)
  • PT Danayasa Arthatama Tbk (SCBD)
  • PT Borneo Lumbung Energi & Metal Tbk (BORN)
  • PT Arpeni Pratama Ocean line Tbk. (APOL)

Investor sebaiknya menghindari pembelian saham dari perusahaan yang berpotensi mengalami Delisting paksa atau Force Delisting. Kerugian yang diakibatkan oleh membeli saham pada perusahaan yang mengalami Force Delisting dinilai cukup besar.

Mengenal Relisting, Apa itu Relisting?

Relisting diartikan sebagai pencatatan kembali dari sebuah perusahaan yang sebelumnya mengalami Delisting. Karena dampak yang ditimbulkan dari Delisting cukup besar, maka perusahaan bisa mengajukan kembali perusahaannya menjadi perusahaan publik.

Pengajuan tersebut disebabkan karena adanya kebutuhan keuangan dari perusahaan melalui instrumen pasar modal (right issue, menerbitkan obligasi, dan sebagainya)

Perusahaan yang mengajukan Relisting harus memenuhi beberapa persyaratan dibawah ini :

  • Permohonan pencatatan kembali atau Relisting bisa diajukan oleh emiten yang terkena Delisting oleh bursa paling cepat dalam kurun waktu enam bulan sejak terjadinya Delisting.
  • Pernyataan pendaftaran yang disampaikan kepada Bapepam dinyatakan masih tetap efektif untuk digunakan.
  • Menyelesaikan permasalahan yang menjadi penyebab saham perusahaan mengalami Delisting.
  • Direksi atau komisaris membuat pernyataan bahwa perusahaan tidak sedang mengalami kasus hukum atau dalam masalah besar yang berpengaruh terhadap kondisi keuangan perusahaan.
  • Nominal dan harga saham berada di angka sekurang-kurangnya Rp 100,-

Memperdagangkan Saham Dihadapan Publik

Sebagian besar pelaku bisnis menginginkan sahamnya bisa diperdagangkan ke publik. Tahapan memperkenalkan perusahaan ke publik disebut dengan Initial Public Offering atau disingkat IPO. Namun, tidak semua perusahaan bisa go public.

Berikut beberapa persyaratan untuk memenuhi proses IPO :

RUPS

Rapat Umum Pemegang Saham atau RUPS diadakan agar perusahaan mendapakan izin go public sebelum benar-benar memperdagangkan saham kepada masyarakat luas.

Penjamin Emisi

Saat hasil RUPS menyatakan setuju dengan go public-nya perusahaan, maka perusahaan harus menunjuk penjamin emisi untuk membantu proses perusahaan go public, serta melakukan IPO.

Penjamin emisi juga biasa disebut dengan under writer, dimana penjamin emisi harus terdaftar di OJK.

Berikut beberapa tugas dari penjamin emisi yang ditunjuk oleh perusahaan untuk melakukan go-public atau memperdagangkan saham di masyarakat luas :

  • Bertugas untuk menawarkan saham kepada beberapa investor
  • Menyiapkan berbagai dokumen untuk keperluan proses IPO
  • Menyusun prospectus
  • Menunjuk perusahaan sekuritas atau merkomendasikannya untuk memenuhi peran agen penjual saham perdana.
  • Menjamin urusan penerbitan dan transaksi saham perdana perusahaan dapat berjalan dengan sebagaimana mestinya

Laporan Keuangan

Perusahaan harus memiliki laporan keuangan yang lengkap, berikut beberapa pihak yang terlibat dalam pembuatan susunan laporan keuangan perusahaan :

  • Auditor Eksternal
  • Penilai
  • Konsultan Hukum
  • Notaris

Pendaftaran

Setelah memenuhi persyaratan yang ada, maka perusahaan dapat mendaftarkan diri untuk IPO di BEI. Berikut proses pendaftaran yang akan dilakukan oleh perusahaan :

  • Memberikan dokumen berupa surat pernyataan pendaftaran perdagangan saham ke OJK
  • Menyampaikan permohonan pencatatan saham ke BEI
  • Adanya evaluasi syarat yang telah dipenuhi oleh OJK dan juga BEI

Ketika BEI dan OJK telah setuju untuk perusahaan dapat menawarkan sahamnya, maka perusahaan tersebut bisa melakukan IPO.

Perusahaan yang memiliki kinerja sangat baik akan mendapatkan banyak investor, sehingga perusahaan harus menghindari namanya masuk dalam daftar perusahaan publik, terbuka, Tbk yang Delisting dari BEI.

Tags:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *