Ini Dia Ciri-ciri Saham Anti Resesi, Koreksi Pasar

Pada artikel ini akan membahas tentang ciri-ciri saham anti resesi, koreksi pasar. Sebelum lebih jauh mengenal ciri-ciri saham anti resesi, kita kenali dulu apa itu resesi.

Resesi adalah suatu periode penurunan ekonomi sementara di mana perdagangan serta aktivitas industri berkurang, secara umum ditandai dengan penurunan PDB dalam dua kuartal berturut-turut. Arti kata resesi juga dapat diartikan sebagai pelambatan atau kontraksi besar di dalam kegiatan ekonomi. Penurunan pengeluaran yang cukup signifikan umumnya mengarah ke resesi.

Berdasarkan The Economic Times, pelambatan di dalam kegiatan ekonomi bisa berlangsung selama beberapa kuartal, sehingga akan benar-benar menghambat pertumbuhan ekonomi. Dalam situasi tersebut, indikator ekonomi seperti PDB, pekerjaan, laba perusahaan dan sebagainya, akan turun dan menciptakan kekacauan di seluruh ekonomi.

Untuk dapat mengatasi ancaman, ekonomi umumnya bereaksi dengan melonggarkan kebijakan moneter dengan memasukkan lebih banyak uang ke dalam sistem, caranya dengan meningkatkan jumlah uang yang beredar.

Langkah ini dilakukan dengan cara mengurangi suku bunga, peningkatan pengeluaran oleh pemerintah dan penurunan pajak juga dapat menjadi jawaban yang baik untuk mengatasi masalah ini.

Beberapa Ciri-ciri Saham Anti Resesi, Koreksi Pasar

Apakah kalian pernah berpikir adakah saham-saham yang anti terhadapa koreksi pasar? Dan ternyata jawabannya adalah ya, ada. Ada beberapa ciri saham, apakah saham tersebut tahan atau tidak terhadap terhadap fluktuasi. Pakar saham, Teguh Hidayat, memberikan penjelasan mengenai ciri-cirinya. Berikut penjelasannya.

  1. Saham memiliki beta yang kecil

Yang pertama pilihlah saham yang mempunyai beta yang kecil. Meskipun menghitung beta agak susah, namun sekarang data lengkapnya ada di Yahoo Finance. Contohnya saham Astra International (ASII), terlihat betanya 1.08 atau saham Adhi Karya (ADHI) yang sudah umum diketahui sahamnya sangat mudah naik turun, mempunyai beta sebesar 2.44. Sedangkan saham Adira Dinamika Multi Finance (ADMF), yang dimana sahamnya relatif tidak terlalu terpengaruh, memiliki beta 0.89.

  1. History kinerja perusahaan yang bagus

Selain melihat beta, ciri yang kedua adalah perusahaan mempunyai riwayat kinerja yang bagus, dimana dalam 5-10 tahun terakhir ekuitas dan labanya dengan konsisten bertumbuh. Umumnya investor membeli saham seperti ini bertujuan untuk investasi jangka panjang/legacy stock. Sehingga logikanya, saat IHSG turun atau ditemukan tanda-tanda bahwa IHSG akan turun, maka investor akan melepas beberapa saham mereka untuk menyiapkan cash. 

Tetapi yang mereka jual bukanlah saham legacy stock, karena sedari awal si investor sudah berkomitmen untuk memegangnya selama mungkin. Dan jika investor tidak ramai-ramai menjual saham tersebut, maka tidak ada alasan lagi bagi saham itu untuk turun.

  1. Saham tidak likuid dan fluktuatif

Saham yang tidak likuid biasanya cenderung tidak diminati oleh para trader jangka pendek, tidak peduli sebagus apapun fundamentalnya. Karena biasanya para trader khawatir akan kesulitan saat menjualnya (karena tidak memiliki bid).

Tidak adanya partisipasi trader justru akan menyebabkan suatu saham tidak mudah turun saat IHSG turun, karena sedari awal saham tersebut tidak banyak dipegang investor atau trader. Dan kalaupun ada, biasanya mereka investor jangka panjang, yang tidak akan panic selling cuma karena pasar sedang turun.

Sehingga kalau fundamental dari saham yang bersangkutan bagus, maka investor yang memegangnya dapat tetap santai, tidak peduli pasar naik atau turun.

  1. Di kalangan trader, sahamnya kurang populer 

Seperti poin yang sebelumnya dijelaskan, suatu saham yang tidak likuid umumnya otomatis tidak populer dan jarang dibicarakan pada komunitas trader. Karena mereka akan lebih antusias membicarakan saham terbang dan semacamnya. Sedangkan saat sebuah saham tahan terhadap koreksi pasar, alias tidak turun saat IHSG turun, maka tidak juga naik ketika IHSG naik.

Bagi banyak orang, saham seperti ini tampak membosankan karena tidak bergerak. Tetapi kalau seorang investor dapat melihat bahwa dalam 5 sampai 10 tahun terakhir, atau bahkan 1 tahun terakhir, suatu saham fundamental bagus sejatinya sudah cukup naik dengan signifikan.

Meskipun saham tersebut tampaknya tidak bergerak selama katakanlah beberapa bulan terakhir, maka saham tersebut tetap menarik untuk dibeli. Bonusnya, investor tidak perlu khawatir soal naik atau turunnya IHSG.

Bermain Saham di Saat Pasar Terkoreksi

Pasar saham di Bursa Efek Indonesia atau BEI dan bursa efek dunia saat ini tengah mengalami koreksi yang disebabkan oleh isu virus Corona. Ditambah di bursa domestik juga tengah dalam penyelesaian sejumlah kasus manajer investasi. Jadi apa yang harus dilakukan para pemodal saham di tengah pandemi saat ini?

Di industri pasar modal seluruh dunia pasti ada siklus naik dan turun. Pada 2008 misalnya, di Indonesia serta negara-negara di dunia mengalami resesi ekonomi yang diawali dari peristiwa subprime mortgage di Amerika Serikat. Sepuluh tahun sebelumnya Indonesia juga pernah mengalami resesi ekonomi, tepatnya tahun 1998, dan berakhir dengan reformasi politik.

Tahun 2018 masuk ke dalam gelombang dekade krisis. Namun saat itu masih cukup aman dan semakin memburuk pada tahun 2020. Sama seperti dekade-dekade sebelumnya, Pasar Modal Indonesia mengalami koreski yang cukup tajam.

Pelaku pasar modal banyak yang mengalami kerugian investasi dari turunnya harga-harga saham. Namun menariknya, di pasar modal selalu saja ada peluang di setiap situasi. Saat harga-harga saham sedang turun karena banyaknya investor yang menjual sahamnya. Hal ini menjadi peluang keuntungan bagi investor yang membeli saham-saham tersebut dengan harga yang rendah.

Dalam siklus ekonomi, setelah berada pada titik terendahnya, maka akan kembali mengalami siklus naik. Waktunya memang tidaklah sama. Ada yang terbilang cepat, seperti hanya satu tahun, dua tahun bahkan tiga sampai lima tahun baru kembali naik. Jadi investor pasar modal tetap dapat memaksimalkan situasi pasar yang sedang turun tersebut untuk mendapatkan keuntungan investasi dalam jangka waktu yang panjang.

Saham perusahaan industri farmasi adalah contoh saham yang relatif tahan dalam situasi krisis dan akan cepat pulih. Mengapa demikian? Karena obat-obatan tetap dibutuhkan oleh orang yang akan tetap terkena penyakit dalam kondisi ekonomi apapun. Itu berarti perusahaan farmasi tidak akan mengalami penurunan kinerja yang signifikan, serta harga saham dalam sektor tersebut relatif stabil.

Sektor selanjutnya yang berdasarkan analisa beberapa perusahaan sekuritas, yang akan tahan krisis ialah sektor makanan. Karena orang akan tetap membutuhkan makanan meski dalam kondisi ekonomi yang sedang krisis. Perusahaan yang memproduksi mi cepat saji, harga sahamnya akan relatif stabil. Orang akan menkonsumsi lebih banyak makanan cepat saji yang sudah pasti harganya terjangkau di masa-masa resesi.

Sebaliknya, sektor konsumsi non primer gaya hidup misalnya pusat perbelanjaan, otomotif, gawai dan lain sebagainya yang berkomponen import akan cenderung menurun harganya dan agak lama untuk kembali naik. Sektor perumahan atau real estate juga akan cenderung paling terpukul di kondisi krisis.

Sementara sektor perbankan meskipun cepat menurun saat terjadinya krisis ekonomi, biasanya paling cepat bangkit juga. Karena saat perekonomian kembali pulih, para pengusaha cenderung mencari bank untuk mendapatkan modal kerja dalam berusaha melakukan ekspansi serta menambah modal kerja.

Jadi, selain melihat dan menunggu situasi, investor dapat pelan-pelan melakukan pembelian saham-saham yang berpotensi untuk naik ke depan. Tidak perlu sekaligus besar, karena tidak ada yang tahu apakah saat ini sudah di titik bawah atau penurunan masih akan terus berlanjut. Pembelian berkala menjadi pilihan dalam memanfaatkan momentum.

Yang paling penting adalah, berinvestasilah dalam waktu yang panjang ketika krisis sedang melanda. Pilih perusahaan yang mempunyai kinerja baik, yang artinya penurunan harga sahamnya disebabkan lebih banyak faktor eksternal dari situasi ekonomi. Bukan akibat dari kinerja fundamental perusahaan yang tidak bagus.

Investor juga perlu memahami karakteristik dari sektor usaha emiten yang sahamnya akan dipilih. Dengan begitu, investor akan memahami kapan siklus perusahaan tersebut akan baik kembali.

Berdiskusilah dengan analis-analis pasar modal dan jangan sampai terbawa panic selling para investor. Berpikir dan analisalah dengan rasa tenang. Hal yang tidak kalah penting adalah gunakan dana jangka pendek apalagi dana pinjaman ketika berinvestasi pada saham. Lakukanlah diversifikasi untuk meminimalkan risiko serta evaluasi secara berkala.

Demikianlah artikel mengenai ciri-ciri saham anti resesi, koreksi pasar. Semoga apa yang dijelaskan dapat bermanfaat bagi yang membacanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *