Cara Menghitung Capital Adequacy Ratio (CAR)

Perbankan adalah salah satu pihak yang juga sudah masuk pasar saham, walau tak semua bank punya potensi jadi emiten potensial. Sebab investor akan mencari data keuangan untuk memastikan sehat atau tidaknya keuangan sebuah bank. Salah satunya dengan cara menghitung Capital Adequacy Ratio (CAR) Bank tersebut.

Banyak hal menyangkut keuangan sebuah perusahaan yang perlu dicek dan dipastikan, sebelum menjadikannya emiten saham. Termasuk perusahaan perbankan, sepintas mungkin dinilai lebih borjuis ketimbang perusahaan jenis lain. Tapi, kalau keuangannya tidak stabil tentu tetap tidak layak jadi emiten.

Pengertian CAR

Sebelum menghitung CAR, Anda perlu tahu apa sebenarnya CAR tersebut. Dalam istilah ekonomi disebut sebagai rasio untuk menilai baik atau buruknya keuangan sebuah bank. Cara kerja CAR yaitu dengan membandingkan modal yang dimilikinya dengan Aktiva Tertimbang Menurut Risiko atau disingkat (ATMR).

Jika lebih disederhanakan bisa juga disebut, penghitungan cukup atau tidaknya modal sebuah bank untuk mengatasi kerugian yang bisa datang kapan saja. Kerugian itu biasanya timbul dari masalah kredit macet, operasional perusahaan, hingga risiko pasar dimana bank berkontribusi di dalamnya.

Prinsip ratio ini terhadap kondisi keuangan bank adalah, semakin besar nilai CAr yang dimiliki bank maka semakin mampu dia mengatasi masalah keuangan yang akan terjadi kapan saja.

Rumus dan Cara Menghitung Capital Adequacy Ratio (CAR) Bank

CAR merupakan salah satu tolok ukur yang digunakan Bank Indonesia untuk melihat kesehatan perbankan di Indonesia. Makanya sangat penting bagi orang-orang yang ingin membeli saham bank untuk bisa menghitung sendiri berapa besar CAR dari bank tersebut.

Cara menghitungnya adalah dengan rumus:

Rumus dan Cara Menghitung Capital Adequacy Ratio (CAR) Bank

Untuk mengetahui besaran modal yang dimiliki sebuah bank, Anda bisa mengeceknya melalui laporan keuangan bank tersebut. Jika dia terdaftar pada Bursa Efek Indonesia (BEI), otomatis laporan keuangannya bisa dicek melalui portofolio yang disediakan BEI.

Anda bisa menghitung CAR sebuah bank sendiri dengan rumus di atas, asalkan semua data yang dibutuhkan terkait seluruh modal dan ATMR juga sudah ada. Tapi, jangan kaget jika nantinya hasil perhitungan Anda akan berbeda dengan CAR yang dihitung bank tersebut. Bisa jadi mereka memiliki standar ATMR lebih detail dari yang Anda punya.

Paling tidak, dengan CAR yang sudah Anda dapatkan bisa menjadi tambahan pertimbangan sebelum membeli saham dari bank tersebut. Karena selain CAR, masih banyak hal lain yang juga perlu diperhatikan.

Contoh Soal CAR

Coba Anda pahami contoh soal berikut ini. Sebuah perusahaan perbankan, memiliki nilai ekuitas perusahaan yang jumlahnya mencapai Rp. 60 miliar. Kemudian untuk dana dari nasabah melalui berbagai produk perbankan seperti giro, tabungan, dan deposito didapat angka Rp. 90 miliar. Kemudian ada juga aset-aset lain yang juga menjadi modal dalam menjalankan usaha bank tersebut yang nilainya Rp. 70 miliar.

Kemudian terdapat resiko dari kredit yang diberikan kepada nasabah dengan jumlah 6 persen. Berapakah CAR dari bank tersebut?

Ini merupakan perhitungan yang sangat sederhana, dimana hal pertama yang harus dicari adalah nilai resiko yang dialami perusahaan.

Contoh Soal CAR

Diketahui:

Modal  = Rp. 60 miliar

Aset     = Rp. 160 miliar

Resiko = 6%

Ditanya:

CAR?

Jawab:

Resiko modal = (6/100) x 60.000.000.000 = Rp. 3.600.000.000

Modal menjadi = Rp. 60.000.000.000 – Rp. 3.600.000.000 = Rp. 56.400.000.000

ATMR = Rp. 160.000.000.000 – Rp. 3.600.000.000 = Rp. 156.400.000.000

CAR =  Rp. 56.400.000.000  x 100%  / Rp. 156.400.000.000 = 36,06 %

Faktor yang Mempengaruhi CAR Bank

Ada beberapa faktor yang teridentifikasi melalui berbagai penelitian, dimana pengaruhnya sangat besar terhadap nilai CAR sebuah perusahaan termasuk perbankan.

  • Non Performing Loan

Merupakan indikator yang bisa menilai sehat atau tidak sehatnya bank, berhubungan langsung dengan kredit yang diberikan bank kepada nasabah. Ketika terjadi kredit bermasalah, maka akibatnya akan sangat besar pada keuangan perusahaan.

Nilai NPL yang tinggi akan menjadi alasan CAR sebuah perusahaan menurun drastis. Ini harus diwaspadai dan dijadikan salah satu pertimbangan saat akan menjadikan bank tersebut emiten Anda.

  • Loan to Deposit Ratio

Merupakan rasio yang membandingkan volume kredit yang diberikan kepada nasabah, dengan dana yang berhasil dikumpulkan bank dari semua sumber. Jika dihubungkan dengan CAR, LDR yang tinggi akan mengancam likuiditas bank. Jadi perlu dipastikan LDR yang dimiliki bank itu rendah sama halnya dengan NPL.

Plus Minus CAR Bank di Dunia Saham

Ada plus minus yang akan muncul ketika Anda sudah memegang nilai CAR sebuah bank potensial. Nilai plusnya adalah ketika CAR tinggi maka Anda akan lebih aman untuk berinvestasi saham disana. Sebab, masalah keuangan beratpun tetap bisa diatasi bank tanpa mengalami kerugian berarti.

Sehingga pemilik saham tetap akan mendapatkan bagi hasil sesuai jadwal, meskipun saat itu bank sedang mengalami masalah seperti kredit macet atau masalah resiko lainnya.

Kelebihan lainnya adalah sebagai pertimbangan jangka pendek dan jangka panjang bagi investor untuk meneruskan investasi atau melakukan penjualan saham bank ketika CAR mengalami penurunan.

Sedangkan dilihat dari nilai minusnya juga ada, salah satunya adalah CAR hasil penghitungan sendiri belum perlu analisa lebih lanjut dengan melibatkan CAR yang dihasilkan oleh perbankan itu sendiri atau pihak lain. Jadi agak membingungkan dan butuh waktu lebih lama.

Manfaat CAR Bagi Bank dan Investor

Selanjutnya mari kita cek apa saja manfaat yang bisa diberikan oleh CAR terhadap sebuah perusahaan perbankan, juga kepada calon investor yang berminat membeli sahamnya.

  • Untuk Perbankan

Pertama adalah memberikan kesempatan bagi perbankan untuk melakukan tindakan solusi, untuk kerugian dan risiko yang mungkin saja terjadi. Misalnya dengan menyediakan cadangan dana untuk kebutuhan tertentu, jadi ketika terjadi resiko perbankan, maka mereka masih punya backup dana untuk digunakan.

Kedua, untuk memastikan berapa pagu kredit yang bisa mereka salurkan kepada masyarakat. Sehingga tidak akan membuat keuangan bank jadi minim, dimana semua kegiatan operasional dan lainnya tetap bisa berjalan lancar. Karena tidak semua dana yang tersedia digelontorkan untuk kredit

  • Untuk Investor

Pertama, membantu analisa terhadap resiko kredit yang dimiliki oleh sebuah bank sebagai emiten saham. Termasuk menghitung eksposur atau paparan kredit yang diberikan, jika data tidak cukup maka analisa bisa melibatkan data tambahan dari perbankan itu sendiri.

Kedua, menyempurnakan analisa terkait keuangan perbankan sehingga keputusan yang diambil sekaitan emiten tersebut bisa lebih tepat sasaran. Karena CAR bukanlah satu-satunya data penting, investor juga butuh data lainnya yang akan menegaskan sejauh mana kesehatan keuangan bank tersebut.

Semoga informasi tentang cara menghitung Capital Adequacy Ratio (CAR) bank di atas dapat membantu para investor saham. Terutama yang ingin menikmati jadi pemilik saham perbankan terkemuka di Indonesia. Jangan hanya tergiur dengan nama besar bank, pastikan informasi tentang keuangannya juga bagus termasuk nilai CAR.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *