Cara Menggunakan Indikator Moving Average Yang Akurat untuk Menganalisa Saham

Cara menggunakan indikator Moving Average untuk menganalisa suatu saham akan terbilang susah dan mudah tergantung siapa yang menggunakannya. Pasalnya, mungkin bagi sebagian orang yang sudah mengetahui seluk-beluk dunia investasi saham, istilah Moving Average sudah ramah untuk didengar, namun bagi orang-orang yang masih awam dan baru terjun ke dunia ini tentu akan kebingungan ketika mendengar istilah ini. Jadi, mari kita bahas terlebih dahulu apa itu Moving Average sebenarnya?

Moving Average atau yang biasa disingkat dengan MA adalah sebuah garis yang didapatkan dari perhitungan harga saham sebelum hari ini, dan yang menghitung pergerakan harga rata-rata suatu saham di waktu tertentu. Moving Average merupakan pilihan terbaik karena cara ini adalah yang terbaik untuk digunakan mengukur momentum dan mengkonfirmasi tren. Selain itu, Moving Average juga pilihan terbaik untuk menentukan support area dan resistance.

Meskipun kelihatannya penggunaannya sangat rumit namun Moving Average merupakan indikator yang paling sederhana jika dibandingkan dengan indikator teknikal lainnya. Bahkan, jika kamu bisa menggunakannya dengan baik dan benar, maka indikator ini bisa menjadi indikator yang kuat. Maka dari itu, bagi para trader yang masih pemula sangat disarankan untuk mempelajari indikator yang satu ini terlebih dahulu sebelum memulai aktivitas trading saham.

Fakta lain mengenai cara menggunakan indikator Moving Average

Moving Average biasanya dihitung dari jumlah harga penutupan (closing) di suatu periode tertentu dan dibagi dengan jumlah satuan waktu di periode tersebut. Kalau pergerakan harga mengalami uptrend, maka kurva Moving Average bergerak ke atas, begitu pun juga dengan sebaliknya, ketika pergerakan harga mengalami downtrend, maka kurva Moving Average akan bergerak ke arah bawah.

Yang paling penting untuk dipahami dari indikator Moving Average adalah indikator ini termasuk dalam indikator repaint atau indikator lagging. Jadi, bisa dikatakan bahwa terdapat kelemahan untuk mengukur harga secara akurat.

Namun, tidak perlu khawatir dengan kelemahan yang dimilikinya itu, karena kamu bisa menggunakan 3 cara yang akan disebutkan di bawah ini untuk menggunakan indikator Moving Average supaya cukup efektif:

  • Digunakan untuk menyaring arah tren (Trend Filter)
  • Digunakan untuk membuka posisi dan identifikasi titik potongan (Crossover) atau biasanya disebut dengan pemicu (Trigger)
  • Dan yang terakhir digunakan untuk mengonfirmasi terjadinya koreksi atau pembalikan arah tren (Trend Reversal)

Selain itu, untuk mempelajari penggunaan indikator Moving Average, kamu juga diharuskan untuk mengenali beberapa jenis indikator ini. Masing-masing jenis indikator ini memiliki keunggulan tersendiri. Berikut penjelasan lengkap mengenai macam-macam jenis Moving Average:

  1. Simple Moving Average (SMA)

Jenis indikator Moving Average yang satu ini merupakan yang paling sering digunakan oleh para trader saham. Sebab, cara perhitungannya terbilang simple sesuai dengan namanya. Cara perhitungannya adalah dengan menjumlahkan total harga selama 1 periode, lalu membaginya dengan periode waktu yang telah ditentukan, misal kamu menggunakan SMA-50 pada Time Frame Daily, maka SMA itu ialah hasil dari perhitungan rata-rata pergerakan 50 candle dalam jangka waktu 50 hari.

Namun, perlu kamu ketahui bahwa semakin besar periode SMA yang digunakan, maka respon indikator terhadap pergerakan harga akan berjalan semakin lambat.

  1. Exponential Moving Average (EMA)

Berbeda dengan Simple Moving Average atau SMA, Exponential Moving Average lebih memiliki perhitungan yang kompleks dan cukup rumit. Cara perhitungannya dilakukan berdasarkan rata-rata dari suatu pergerakan harga di periode tertentu, setelah itu ditambahkan lagi dengan multiplier atau pembobotan.

Biasanya, EMA memiliki kemampuan lebih responsif terhadap pergerakan harga terbaru jika dibandingkan dengan SMA. EMA dikatakan lebih cepat merespon pergerakan harga ketika naik maupun turun.

  1. Linear Weighted Moving Average (LWMA)

Jenis indikator Moving Average yang satu ini adalah pilihan lain dari indikator Moving Average yang banyak digunakan oleh para trader sebagai sarana penentuan sebuah tren. Cara perhitungannya mengacu pada jumlah semua harga penutupan (closing) yang kemudian dikalikan dengan posisi titik data, baru setelah itu dibagi dengan jumlah periode yang digunakan. Misalnya, kamu menggunakan periode 5, maka Linear Weighted Moving Average (LWMA) akan mengambil harga penutupan (closing) saat itu juga dan mengalikannya dengan angka 5, kemudian harga penutupan (closing) kemarin dan mengalikannya dengan angka 4, dan begitupun seterusnya, baru setelah itu dibagi dengan total periode yang sedang digunakan.

Pergerakan LWMA terbilang hampir sama responsifnya dengan EMA, dan lebih lambat jika dibandingkan dengan SMA.

3 cara melakukan Open Posisi menggunakan Moving Average

Secara garis besar, untuk melakukan Open Posisi dengan menggunakan Moving Average terdapat 3 cara yang perlu kamu ketahui dengan jelas. Nah, penjelasan di bawah ini akan menggunakan metode SMA. Simak dengan baik penjelasan di bawah ini:

  1. Open Posisi ketika terjadi Crossover

Cara ini merupakan cara yang paling cukup sering digunakan oleh para trader ketika akan melakukan Open Posisi dengan menggunakan Moving Average. Kamu perlu menggunakan 2 buah indikator Moving Average sekaligus untuk bisa menerapkannya. Cara Entry-nya bisa kamu lakukan ketika terjadi Death Cross atau Golden Cross di garis Moving Average.

  1. Open Posisi ketika sinyal Price Action terbentuk

Berbeda dengan cara sebelumnya yang perlu menggunakan 2 buah indikator Moving Average sekaligus, cara Open Posisi yang satu ini hanya perlu memanfaatkan 1 indikator Moving Average untuk menggunakannya. Indikator Moving Average bisa digunakan untuk support atau resistance yang dinamis.

Apabila pergerakan harga memotong indikator tersebut dari atas ke bawah, maka Moving Average itu akan berfungsi sebagai support. Dan, ketika harga itu nantinya akan ditutup memantul dari garis Moving Average, maka hal ini merupakan tanda bahwa harga akan melanjutkan Trend Bullish yang ada. Hal ini juga berlaku dengan pergerakan harga yang sebaliknya. Namun, jika pergerakan harganya berbanding terbalik dengan penjelasan sebelumnya, maka Moving Average tersebut memiliki fungsi sebagai resistance.

  1. Open Posisi menggunakan Moving Average sebagai Trend Filter

Cara ini juga tidak kalah sederhana untuk menggunakannya. Indikator Moving Average disini akan berfungsi sebagai penyaring tren yang sedang terjadi. Jika pergerakan harga bergerak di atas kurva Moving Average, maka hal ini merupakan tanda kondisi sedang uptrend. Dan jika pergerakan harga berada di bawah kurva Moving Average, maka ini bertanda kondisi sedang downtrend. Selain itu, periode yang lazim untuk memfungsikan Moving Average sebagai Trend Filter adalah SMA-200.

Kesimpulan dari artikel ini adalah Open Posisi dengan menggunakan indikator Moving Average hanya satu dari banyak metode analisa teknikal yang bisa dipakai untuk pedoman dalam kegiatan trading. Hanya saja semua tergantung dengan cara kamu sendiri dalam mengintepretasikan atau memanfaatkan informasi yang diperoleh dari setiap indikator. Selain itu, cara menggunakan indikator Moving Average juga terbilang mudah untuk dipelajari oleh kalangan umur berapa pun.

Tags:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *