Cara Averaging Down dan Averaging Up Saham

Cara Averaging Down dan Averaging Up Saham – Sebagian besar orang menganggap bahwa investasi saham adalah hal yang sangat membingungkan salah satu contohnya adalah bagaimana cara averaging down dan averaging up. Masih asing dengan istilah tersebut? Cari tahu selengkapnya di artikel ini yuk!

Cara Averaging Down dan Averaging Up Saham

Averaging down dan averaging up merupakan salah satu cara atau metode membeli saham yang sudah kita miliki. Averaging up adalah pembelian saham di bursa efek dengan harga yang lebih tinggi untuk memaksimalkan potensi keuntungan sedangkan averaging down adalah pembelian saham di bursa efek dengan harga yang lebih rendah untuk menurunkan harga modal.

Tidak hanya berlaku untuk saham, averaging up dan averaging down juga berlaku untuk pembelian reksa dana.

Contoh averaging up adalah seorang investor membeli saham dengan harga Rp 4.000 sebanyak 100 lot dan 2 minggu kemudian harga saham tersebut naik menjadi Rp 4.200 sehingga investor memutuskan untuk membeli lagi sebanyak 50 lot. 1 bulan kemudian saham tersebut naik ke harga Rp 5.000 dan investor akhirnya menjual seluruh sahamnya. Pembelian saham kedua sebanyak 50 lot dengan harga Rp 4.200 tersebut adalah averaging up.

Sementara contoh averaging down adalah seorang investor membeli saham dengan harga Rp 4.000 sebanyak 100 lot dan 2 bulan kemudian harga saham tersebut turun ke Rp 3.500. seorang investor tersebut memutuskan untuk membeli lagi saham dengan harga Rp 3.500 sebanyak 100 lot sehingga investor mempunyai 200 lot saham dengan rata-rata harga Rp 3.750. Pembelian saham kedua tersebut adalah averaging down.

Menentukan Holding Period Investasi

Ada banyak sekali orang yang masih salah mengenai holding periode investasi saham. Ada banyak orang yang mengaku bahwa ia adalah seorang investor saham jika dilihat berdasarkan analisa fundamental tetapi ketika mendapatkan pertanyaan rencananya berapa lama akan hold saham yang dibeli? Sebagian besar jawabannya akan maksimal satu tahun.

Seorang investor yang berdasarkan analisan fundamental ini pada umumnya terdapat dua alasan mengapa ia membeli saham yaitu value investing dan growth investing. Value investing adalah membeli saham dengan harga salah sedangkan growth investing adalah membeli saham perusahaan yang mempunyai pertumbuhan laba dan sales luar biasa bagus.

Kok bisa salah harga? Dalam kasus ini biasanya perusahaan tersebut awalnya mempunayi kinerja yang baik tetapi seiring berjalannya waktu kinerjanya semakin menurun sehingga harga sahamnya juga ikut turun dan pada akhirnya menjadi sebuah saham yang salah harga.

Untuk menyadarinya, pastinya pasar membutuhkan waktu dan dari sini bisa diketahui bahwa tidaklah bijak jika mempunyai target holding terlalu singkat, minimal adalah 3-5 tahun lamanya.

Menjadikan harga saham semakin tinggi adalah dengan cara mendapatkan seseorang yang bersedia membeli saham kita dengan harga lebih tinggi. Misalnya seperti terdapat perusahaan dengan growth bagus yaitu 25% per tahun, maka seorang investor bisa saja menaikkannya menjadi 50% per tahun. Untuk bisa mendapatkan profit 100% dan jika pertumbuhan harga saham sehat maka investor membutuhkan waktu sekitar 4 tahun.

Menentukan Target Profit

Salah satu hal paling penting dalam investasi saham adalah harus mengetahui waktu yang tepat untuk exit atau menjual saham. Seorang value investor mempunyai aturan menjual saham saat harga belisudah melampaui harga wajar dari perusahaan. Seorang growth investor mempunyai aturan menjual saham saat pertumbuhan laba perusahaan sudah cukup melambat dan trader akan taking profit saat harga saham sudah mencapai target yang biasanya tidak jauh dari titik resistance dari analisa yang dibuat.

Bagi Saham Menjadi Beberapa Bagian

Seorang investor dan trader perlu untuk membagi waktu kapan harus masuk ke dalam investasi saham karena seseorang dengan analisa sahebat apapun psikologinya akan tetap terpengaruhi oleh pergerakan harga market atau menunggu harga saham jatuh sampai ke titik terendah.

Yakin Harga Saham Akan Naik?

Apakah seorang investor sudah yakin harga sahamnya akan naik? Pertanyaan ini bisa dilihat dari perpektif analisa fundamental untuk investor dan analisa teknikal untuk trader.

Jika seorang investor membeli saham di perusahaan A dan setelah itu harga sahamnya terus menurun tetapi perusahaan tersebut mengalami peningkatan baik itu laba ataupun salesnya yang semakin bagus. Kondisi ini sangatlah cocok untuk melakukan averaging up.

Untuk analisa teknikal, Jika harga saham sudah menembus titik resistance dan terus naik maka hal ini disebut dengan breakout resistance. Saat suatu saham melakukan breakout resistance dan didukung dengan volume yang bagus maka kemungkinan besar penguatannya akan terus berlanjut.

Misalnya seperti jika seseorang berinvestasi emas batangan dan dalam 2 bulan terakhir harganya naik turun di Rp 800.000 sampai Rp 850.000 per gram, maka harga Rp 800.000 tersebut merupakan titik support dan Rp 850.000 merupakan titik resistance.

Secara tiba-tiba harga emas tersebut naik menjadi Rp 860.000 tetapi terdapat banyak orang yang tidak menjual emas tersebut dan lebih memilih untuk melakukan pembelian emas sehingga volume transaksi terus meningkat secara signifikan.

Kesimpulan

Kesimpulan yang bisa diambil dari bahasan di atas adalah tugas paling utama seorang investor saham adalah menentukan jati diri investor itu sendiri. Apakah ingin menjadi seorang value investor, trader, atau growth investor? Jadi jika sudah memutuskan, jangan sampai salah Anda menjadi investor tetapi berlandaskan analisa teknikal dan menjadi trader berdasarkan analisa fundamental.

Hal tersebut sangatlah salah dan jika diumpamakan maka Anda telah menambahkan nasi ke minuman bersoda dan es batu di mangkuk kuah bakso.

Jika salah, jangan salahkan nasi dan es batunya tetapi salahkan diri Anda sendiri yang tidak tepat dalam menyatukan item tersebut. Hal yang sama pula jika Anda ingin menjadi value investor, trader, dan growth investor.

Apakah diperbolehkan seorang investor mengerti dan memahami analisa teknikal? Tentu saja boleh, bahkan lebih menariknya lagi jika Anda berpikir dan mencoba untuk menyatukan atau menggabungkan dua hal tersebut menjadi sesuatu yang baru.

Misalnya seperti memilih saham mana yang baik dan bagus dengan menggunakan teknik analisa fundamental dan membeli di saat yang tepat dengan menggunakan teknik analisa teknikal.

Kesalahan akan muncul jika Anda seorang investor dan membeli saham berdasarkan analisa teknikal dengan menggunakan data laporan keuangan guna membantu pertimbangan harga saham akan naik di suatu hari nanti.

Jika Anda sudah bisa memutuskan untuk memilih ingin menjadi value investor, trader, atau growth investor maka hal yang perlu dilakukan adalah mengikuti dan menerapkan 4 cara yang ada di atas ini untuk membantu Anda dalam pengambilan keputusan. Apakah perlu melakukan averaging down dan averaging up dalam investasi saham milik Anda.

Demikian informasi mengenai bagaimana cara Averaging Down dan AveragingUp saham yang bisa kami sampaikan untuk Anda. Semoga dengan adanya artikel ini bisa bermanfaat dan membantu kita semua. Terima kasih dan  sampai jumpa di artikel menarik lainnya!

Tags:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *