Beginilah Asal Usul Saham Gorengan dan Ciri-Cirinya

Saham gorengan merupakan salah satu fenomena yang sudah lama terkenal dan mencuat di berbagai berita nasional, Lantas apa itu dan bagaimana asal-usul saham gorengan? Artikel ini akan mengupas mengenai pertanyaan tersebut, jadi kalau penasaran baca sampai selesai yuk!

Asal Usul Saham Gorengan

Saham gorengan merupakan saham yang tidak bermutu akibat adanya manipulasi oleh bandar supaya bisa mengalami kenaikan harga dengan cepat dan dalam waktu yang singkat. Penjelasan sederhananya adalah saham-saham tersebut tidak mempunyai prospek bagus secara fundamental tetapi harganya terus saja naik.

Istilah dari saham gorengan sendiri merupakan perumpamaan saham dengan makanan gorengan seperti bakwan, mendoan, pisang goreng, dan lain sebagainya yang digoreng dengan direndam dalam banyak minyak goreng panas.

Makanan tersebut bisa menyebabkan berbagai penyakit atau buruk bagi kesehatan misalnya seperti kolesterol tinggi, obesitas, dan lain sebagainya. Maka dari itu saham-saham tersebut diberikan nama saham gorengan karena akan berdampak buruk pula bagi portofolio saham seorang investor.

Dari penjelasan di atas mungkin Anda bertanya-tanya bandar itu apa sih? Siapa saja sih yang bisa menjadi bandar?

Ada banyak orang mengira bahwa bandar yang menggoreng saham tersebut adalah perusahaan sekuritas atau broker saham. Padahal siapa saja bisa menjadi bandar dengan syarat mempunyai saham dalam jumlah yang sangat banyak.

Pihak yang seringkali berperan sebagai bandar saham adalah manajer investasi, emiten, dan perusahaan sekuritas. Dalam kondisi normal perilaku bandar ternyata tidak berdampak buruk bagi investor ritel di Bursa Efek Indonesia bahkan eksistensi dari bandar tersebut justru dibutuhkan untuk menjaga keberlangsungan mekanisme perdagangan di Bursa Efek.

Tindakan atau perilaku bandar baru bisa berdampak negatif bagi pemain pasar lain saat mereka sengaja untuk memanipulasi saham-saham tidak berkualitas guna meraup keuntungan dengan jumlah besar dan jangka waktu yang pendek.

Pertanyaannya adalah bagaimana cara Bandar tersebut menggoreng saham?

Aksi menggoreng saham bisa menyertakan dua bandar atau lebih. Proses manipulasi biasanya akan dimulai saat bandar sudah menimbun saham tertentu dalam jumlah yang besar. Setelah itu mereka akan menyebarkan berita tertentu sembari mendistribusikan saham yang dimilikinya dengan cara memasang banyak bid dan offer.

Tujuannya adalah untuk membuat suasana perdagangan yang ramai pada saham yang akan digoreng tersebut. Saat harga saham yang digoreng sudah mulai meningkat maka pemain pasar lain biasanya akan mulai melirik saham tersebut. Pemain pasar lain akan cepat-cepat mengakumulasi saham gorengan dari tangan bandar sampai harganya semakin meninggi.

Kemudian bandar akan lepas tangan saat barang yang disimpan tersebut sudah habis. Sampai pada titik inilah saham gorengan sudah terdistribusikan secara luas dan harganya tidak bisa naik lagi.

Saat pembeli saham tersebut mempunyai keinginan untuk menjual saham gorengan yang ada di tangannya mereka tidak bisa lagi menemukan pembeli pada tingkat harga yang lebih tinggi. Dikarenakan suatu keadaan yang menjadikannya memerlukan uang atau ingin cut loss maka mereka mungkin saja akan berusaha membanting harga agar bisa dibeli oleh orang lain.

Akhirnya harga saham yang digoreng akan merosot turun lagi dengan sangat cepat. Trader ritel yang tidak sempat menjualnya pada waktu yang tepat mungkin saja akan terpaksa hold saham selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun. Adapun banyak sekali skenario menggoreng saham yang pernah terjadi di Bursa Efek Indonesia, salah satunya adalah menebar rumor akuisisi atau merger terhadap suatu perusahaan.

Ciri-Ciri Saham Gorengan

Adapun beberapaciri dari saham gorengan ini, antara lain:

Masuk Dalam Daftar UMA (Unusual Market Activity)

Bursa Efek Indonesia atau BEI juga mempunyai hak untuk melihat adanya potensi saham gorengan. Apabila Bursa Efek Indonesia menemukan adanya perubahan harga yang signifikan pada suatu saham maka Bursa Efek Indonesia akan memasukkan saham tersebut ke dalam daftar Unusual Market Activity atau UMA.

Unusual Market Activity atau UMA sendiri merupakan suatu kegiatan perdagangan atau pergerakan harga pada efek yang tidak biasa dalam kurun waktu tertentu di Bursa Efek yang menurut penilaiannya hal tersebut bisa menyebabkan terganggunya jalannya perdagangan efek yang wajar, teratur, dan efisien.

Namun tidak semua saham yang masuk ke dalam daftar UMA ini merupakan saham gorengan. Daftar tersebut hanya berfungsi untuk memberikan peringatan kepada para investor supaya lebih berhati-hati dengan saham-saham yang telah dituliskan.

Mempunyai Nilai Transaksi dan Volume Tidak Wajar

Ciri dari saham gorengan selanjutnya adalah kapitalisasi pasarnya kecil dan masuk dalam kategori saham lapis 2 atau lapis 3 tetapi mempunyai volume dan nilai transaksi hariannya yang sangat tinggi daripada perusahaan sejenis bahkan bisa menyamai transaksi saham unggulan atau blue chip.

Kapitalisasi pasar sendiri merupakan ukuran besar kecilnya sebuah perusahaan yang diperoleh dari jumlah saham beredar perseroan kemudian dikalikan dengan harga pasar.

Untuk bisa membandingkan suatu perusahaan dengan satu atau lebih dari perusahaan lain yang sejenis maka perlu diperhatikan juga kapitalisasi pasarnya karena selisih yang sangat jauh akan mengakibatkan perbandingan kedua saham tidak atau kurang berimbang.

Dengan melihat dari kapitalisasi pasar yang kecil atau kepemilikan investor ritel yang mini maka bandar bisa lebih mudah dan lebih murah untuk mengelola saham-saham gorengan yang menjadi komoditas utamanya di pasar modal.

Offer dan Bid Tidak Wajar

Arti bid adalah antrian untuk membeli saham pada harga rendah sementara offer adalah antrian menjual saham pada harga tinggi. Biasanya saham gorengan ditransaksikan dalam jumlah yang besar tetapi posisi bid dan offer-nya tipis-tipis atau tidak wajar. Antrian bid dan offer-nya pun tidak merata bahkan seringkali hanya 1 lot saja per harga, sehingga hal tersebut akan memudahkan bandar untuk menaikkan harga saham.

Informasi Emiten dan Kinerja Keuangannya Tidak Sejalan Dengan Kenaikan Harga

Pergerakan harga yang tidak wajar atau tidak jelas membuat saham gorengan tidak satu jalan dengan kinerja keuangan atau tidak disertai dengan informasi atau pemberitaan dari internal suatu emiten.

Terkadang kinerja keuangan perusahaan tersebut tumbuh sebesar 50% tetapi tidak jarang pula kinerjanya akan turun lebih dari 50% saat harga sedang naik-naiknya, sehingga kenaikan harga saham seringkali tidak sejalan atau tidak beriringan dengan kinerja serta aksi korporasi yang telah diumumkan oleh emiten.

Tidak Bisa Dianalisis

Dikarenakan kinerja keuangan perusahaan tidak setinggi dengan kenaikan harga sahamnya, rasio keuangan, dan valuasi, saham gorengan biasanya terlalu tinggi daripada pesaing terdekatnya atau sejenisnya bahkan bisa dikatakan tidak masuk akal. Dengan kata lain saham gorengan ini tidak bisa dianalisis secara fundamental.

Valuasi yang biasanya dipakai oleh perusahaan adalah rasio harga saham per nilai buku dan rasio harga saham per laba. Jika valuasi perusahaannya terlalu jauh di atas pesaing mi

misalnya seperti rata-rata harga saham per nilai buku sebuah industri ada pada angka 1,5 kali maka jika terdapat emiten yang harga saham per nilai bukunya 20 kali atau bahkan 100 kali maka sebaiknya dihindari, karena itu adalah saham gorengan.

Secara teknik pergerakan saham tersebut juga sangat berfluktuatif atau justru jarang ditransaksikan sehingga tidak memperlihatkan indikator analisis teknikal sama sekali.

Sekian informasi mengenai asal usul saham gorengan dan ciri-cirinya. Semoga bisa membantu dan bermanfaat, khususnya untuk Anda yang sedang belajar mengenai saham. Terima kasih sudah baca artikel ini dari awal sampai selesai dan sampai jumpa lagi!

Tags:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *