Apa Itu Inverted Yield Curve? dan Hubungannya dengan Krisis Ekonomi?

Negara Indonesia bahkan dunia pernah mengalami krisis ekonomi. Krisis ekonomi merupakan suatu keadaan di mana perekonomian suatu wilayah seperti negara ataupun beberapa bagian dunia sedang mengalami penurunan yang sangat drastis.

Banyak sekali penyebab terjadinya krisis ini seperti adanya pengangguran yang jumlahnya sangat banyak pada suatu negara, meroketnya harga pokok seperti sembako, penurunan pertumbuhan ekonomi, nilai tukar uang yang mengalami penurunan serta adanya Inverted Yield Curve.

Pasti ada salah satu indikator yang masih asing di telinga kalian yaitu Inverted Yield Curve

Inverted Yield Curve, dan Hubungannya dengan Krisis Ekonomi

Pasti kalian bertanya – tanya apa itu Inverted Yield Curve, dan hubungannya dengan krisis ekonomi. Kedua aspek tersebut memiliki hubungan keterikatan sebab akibat.

Inverted Yield Curve memiliki makna kurva imbal hasil terbalik yang mana US Treasury Bond (surat utang negara) sebagai instrumen utang di Amerika Serikat yang memiliki jatuh tempo panjang dalam sedang dalam kondisi bunga yang lebih kecil dibanding dengan treasury bond jangka pendek.

Kejadian imbal balik ini salah satunya berasal dari US Treasury Bond jangka pendek yaitu 2 tahun, lebih tinggi daripada US Treasury Bond jangka panjang yaitu 10 tahun. Bond sendiri merupakan surat utang yang diperjual belikan seperti saham, obligasi, dan lain sebagainya.

Seperti yang telah disinggung sebelumnya mengenai pengertian Inverted Yield Curve (Kurva Imbal Hasil Terbalik) yaitu yang menunjukkan keadaan kurva  imbal hasil terbalik atau miring ke bawah. Hal ini berarti bahwa imbal hasil akan mengalami penurunan dalam obligasi jangka panjang. Dampaknya, di masa depan mempunyai kemungkinan besar akan terjadi resesi ekonomi.

Bisa diibaratkan seperti ketika kita menaruh deposito di bank dalam jangka waktu lama saat penyimpanannya, maka konsekuensinya bunganya akan membesar tiap tahunnya.

Salah satu kasus terkenal dari adanya inverted yield curved adalah pada tahun 1955 hingga 2009, Amerika Serikat tercatat sudah mengalami krisis yaitu market crash selama 7 kali. Inverted Yield Curve ini sebagai indikator adanya krisis yang datang sekitar 1 hingga 2 tahun sebelum adanya market crush.

Jadi, dalam jangka 1 hingga 2 tahun itu bisa dilihat bahwa akan trejadi krisis ekonomi pada suatu negara. Contohnya pada Desember 2007 hingga Juni 2009 terjadi krisis global. Nah, pada penghujung tahun 2005 dan sepanjang 2006 Inverted Yield Curve sudah nampak.

Adanya krisis ini tidak semata – mata disebabkan oleh Inverted Yield Curve, akan tetapi juga didorong oleh indikator lain seperti inflasi dan lain sebagainya. Hanya saja adanya Inverted Yield Curve ini sebagai pertanda.

Kondisi krisis di pasar modal dunia ini akan langsung mempengaruhi pasar modal di Indonesia. Hal ini dapat terjadi karena dalam pasar modal Indonesia, investor asing memiliki pengaruh yang sangat kuat, sehingga jika terjadi krisis mereka akan buru – buru menarik dananya dari instrumen yang dianggap berasal dari negara berkembang, salah satunya Indonesia dan memindahkan ke instrumen yang memiliki keamanan yang lebih. Seperti contohnya adalah emas atau US Treasury Bond.

Berdasarkan sejarah dan pendapat telah membuktikan bahwa dengan adanya Inverted Yield Curve ini menandakan bahwa akan terjadi krisis perekonomian. Akan tetapi, untuk pemahaman yang lebih mendalam mari kita simak konsep yield curve itu sendiri.

Yield Curve

Suatu surat berharga pasti mengalami suatu perubahan, salah satu dalam mengatasinya adalah dengan mengambil keputusan beriventasi atau tidak pada surat berharga terebut adalah dengan memperhatikan yield (imbal hasil) sebagai faktor penting dalam usaha memperoleh keuntungan dari investasi.

Salah satu caranya adalah dengan mengetahui waktu jatuh tempo yang memiliki hubungan dengan yield (imbal hasil). Cara mengetahuinya adalah dengan melihat pada kurva imbal balik (yield curve).

Ketika mengamati kurva imbal balik (yield curve) dapat ditunjukkan mengenai perbedaan kompensasi yang telah diterima para investor karena membeli utang jangka panjang atau jangka pendek.

Teori Yield Curve

Ada 4 teori yang terkenal dari Damodaran mengenai yield curve

  1. Expectation Hypothesis Theory

Tingkat ekspetasi dari para investor terhadap tingkat bunga sama dengan forward rate. Antara investor dengan obligasi jangka panjangan maupun pendek tidak memiliki perbedaan karena tingkat bunga yang mereka harapkan sama dengan forward rate.

  1. Preferred Habitat Theory

Risk premium harus meningkat menurut jatuh temponya. Hal ini trejadi dapat terjadi apabila semua investor mempunyai keinginan untuk melikuidkan keseluruhan investasinya dalam jangka waktu yang pendek di mana semua emiten sedang ragu untuk meminjam dalam jangka waktu yang panjang.

  1. Market Segmentation Theory

Para investor memiliki preferensi untuk obligasi karena ekspetasi tingkat pengembalian obligasi itu sendiri. ada 2 jenis investor yaitu yang menyukai obligasi jangka panjang karena premium yang didapat bisa besar, ada juga investor yang suka denga obligasi dengan jatuh tempo pendek karena risiko atas tingkat bunga lebih kecil.

  1. Liquidity Preference Theory

Teori ini mengatakan bahwa ada investor jangka panjang akan lebih menyukai obligasi berjangka pendek apabila forward rate lebih kecil daripada tingkat bunga yang diekspetasikan. Sebaliknya, ada investor jangka pendek akan lebih menyukai obligasi berjangka panjang lebih besar daripada tingkat bunga yang diekspetasikan investor kecuali suku bunga jangka pendek.

Fungsi dari adanya yield curve ini adalah sebagai dasar dalam proses transaksi di pasar obligasi. Pasar obligasi tepat untuk mengamati keadaan dalam dunia investasi sehingga mereka para investor dapat bereaksi lebih cepat dalam meninjau perubahan di pasar obligasi daripada menjadikan perubahan saham sebagai dasar atau acuan.

Contohnya adalah ketika akan menentukan tingkat pada pada pinjaman dari bank, yield curve dapat digunakan oleh para investor untuk memprediksi perkembangan dan pertumbuhan ekonomi di masa mendatang apakah mengalami kemajuan atau kemunduran.

Peran penting yield curve lainnya adalah sebagai alat untuk mempresidiksi terjadinya resesi keuangan di masa yang akan datang.

Bentuk Yield Curve

Yield cuve memiliki 3 bentuk, pertama adalah kurva normal yang mana kurva tersebut memiliki peregrakan garis yang miring ke atas. Hal ini berarti bahwa imbal hasil obligasi tersebut terus mengalami peningkata seiring berjalannya periode. Inilah risiko yang didapat ketika mengambil investasi jangka panjang pada obligasi, karena suku bunga akan cenderung mengalami kenaikan tiap tahun.

Kedua yaitu kura datar (flat curve) yang mana kurva tersebut datar tidak mengalami kenaikan maupun penurunan. Kurva ini biasa didapat oleh investor normal, akan tetapi juga tergantung pada keadaan ekonominya.

Ketiga yaitu kurva terbalik (inverted curve) menunjukkan keadaan kurva  imbal hasil terbalik atau miring ke bawah. Hal ini berarti bahwa imbal hasil akan mengalami penurunan dalam obligasi jangka panjang. Dampaknya, di masa depan mempunyai kemungkinan besar akan terjadi krisis ekonomi.

Inverted Yield Curve, dan Hubungannya dengan Krisis Ekonomi di atas semoga dapat membantu kita dalam memahami dinamika kurva imbal balik yang akan berpengaruh pada perekonomian dunia termasuk Indonesia. Jika ini terjadi maka akan berpengaruh juga pada kondisi investasi kita pula.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *