Mengenal 5 Indikator Analisis Teknikal Paling Populer

Umumnya sebagian besar Trader menggunakan beberapa Indikator Analisis Teknikal paling populer untuk mendapatkan pengetahuan tambahan tentang aksi harga suatu aset. Karena indikator-indikator tersebut mampu memudahkan dalam mengidentifikasi pola.

Selain itu, jenis-jenis indikator tersebut dapat memudahkan dalam melihat sinyal jual atau beli dengan baik di Bursa Efek. Meski secara umum indikator analisis teknikal digunakan oleh para trader, tidak menutup kemungkinan bagi para investor jangka panjang untuk menggunakannya.

Indikator Analisis Teknikal Paling Populer di Kalangan Trader Hingga Investor

Nah, karena indikator ini cukup penting, bahkan beberapa analis profesional hingga pedagang berpengalaman justru membuat indikatornya sendiri. Sehingga tujuan dari indikator analisis teknikal ini membuat para trader maupun investor dapat menilai kondisi pasar secara tepat.

Penilaian tersebut berdasarkan dari histori harga di masa lalu, sekaligus memberikan gambaran mengenai pergerakan pasar di masa yang akan datang. Karena itulah terdapat beberapa jenis indikator analisis teknikal yang sudah populer di kalangan trader hingga investor.

Daftar Indikator Analisis Teknikal Terpopuler

Untuk mengetahui jenis-jenis indikator analisis teknikal tersebut, simak daftarnya di bawah ini:

  1. Moving Average (MA)

Indikator analisis  teknikal terpopuler yang pertama adalah Moving Average atau MA. Indikator yang satu ini terbilang sangat sederhana jika dibandingkan dengan indikator lainnya. MA dapat merapikan pergerakan suatu harga dengan cara menyaring fluktuasi harga secara acak dan mengamati arah tren.

Di samping itu terdapat jenis indikator moving average lain yang umum digunakan, seperti simple moving average atau SMA dan juga exponential moving average atau EMA. SMA secara garis besar dapat mengambil data harga berdasarkan periodenya untuk kemudian diambil data harga rata-ratanya.

Contohnya, SMA memiliki alur 10 hari sehingga selama 10 hari terakhir SMA dapat menghitung data harga rata-rata. Sedangkan EMA lebih mengutamakan data harga terbaru, membuat EMA lebih tanggap pada aksi harga terbaru.

Anda dapat menggunakan crossover moving average sebagai tanda jual atau beli. Contohnya, jika SMA periode 100 hari crossing di bawah SMA periode 200 hari, hal ini dapat dijadikan sebagai tanda jual. Maka, tren mungkin akan berbalik sebab pergerakan harga jangka pendek tidak lagi menuruti tren naik.

  1. Relative Strength Index (RSI)

Selanjutnya ada indikator Relative Strength Index atau RSI. Indikator ini merupakan jenis indikator momentum, yang mampu memperlihatkan apakah suatu aset mengalami overbought atau oversold.

Biasanya hal ini dilakukan dengan cara mengukur besarnya perubahan harga terbaru. Seperti pengaturan standar yakni pada 14 periode sebelumnya. Misalnya pada 14 hari, 14 jam, dan lain-lain. Data yang didapatkan akan diperlihatkan sebagai osilator dengan nilai antara 0 -100.

RSI mampu melihat tingkat momentum di mana harga dapat berubah. Jika momentum meningkat saat harga naik, uptrend sedang kuat pembeli semakin banyak masuk. Sebaliknya, apabila momentum menurun saat harga naik, artinya penjual akan segera mengendalikan pasar.

Jika mendefinisikan RSI secara sederhana, nilai melebihi 70 artinya aset sudah overbought. Sedangkan di bawah 30 berarti sudah oversold. Artinya, nilai yang ekstrem dapat menunjukkan adanya trend reversal di waktu mendatang.

Namun, nilai-nilai tersebut tidak perlu dianggap sebagai sinyal jual atau beli. Karena seperti indikator analisis teknikal lainnya, RSI bisa saja memperlihatkan sinyal yang salah. Di sini Anda dapat mempertimbangkan berbagai faktor lain sebelum memutuskan jual atau beli.

  1. Stochastic Oscillator (SO)

Stochastic Oscillator atau SO disebut-sebut sebagai salah satu indikator analisis teknikal yang cukup akurat. Secara umum indikator ini digunakan untuk dapat melihat apakah suatu aset mengalami overbought atau malah oversold.

Secara umum nilai indikator Stochastic Oscillator berkisar antara 0 dan 1 atau juga 0 dan 100. Di samping itu indikator ini terbilang cukup cepat dan sensitif, sehingga dapat menghasilkan banyak sinyal jual atau beli yang mungkin sulit untuk ditafsirkan.

Meski begitu, indikator ini disebut bersifat sebagai pengukur suatu momentum. Sehingga SO ini bukanlah indikator tren. Maka dari itu, banyak yang menggunakan Stochastic Oscillator sebagai indikator Swing Trading.

Stochastic Oscillator memiliki strategi utama yakni “Buy Low, Sell High”. Di sini overbought dan oversold bukanlah sinyal bagi Stochastic. Sebab cara membaca indikator ini tidak berpatokan pada overbought dan oversold saja.

  1. Moving Average Convergence Divergence (MACD)

Moving Average Convergence Divergence atau MACD, merupakan jenis indikator populer berikutnya yang banyak digunakan seorang trader. Indikator ini dapat memberikan sinyal jual atau beli kepada trader. Karena fungsinya dapat memperlihatkan tren yang sedang terjadi.

Nah, di dalamnya terdapat dua garis yang dapat ditemui, seperti Signal Line dan juga MACD Line. Apabila nilai MACD positif atau di atas nol, maka pasar bersifat bullish. Di sini seorang trader disarankan untuk beli. Namun apabila nilai MACD negatif yakni di bawah nol, maka pasar bersifat bearish. Sehingga trader disarankan untuk jual.

Di samping itu, MACD kerapkali dikombinasikan dengan indikator RSI. Sebab kedua indikator ini mampu mengukur momentum berdasarkan pertimbangan dari berbagai faktor. Umumnya tujuannya untuk mendapatkan gambaran teknikal pasar secara lebih lengkap.

  1. Bollinger Bands (BB)

Untuk indikator analisis teknikal yang terakhir ini disebut sebagai Bollinger Bands atau BB. Indikator BB mampu mengukur volatilitas pasar, dan dapat menganalisis kondisi overbought dan oversold.

Pengaturan dari indikator ini dapat bervariasi. Namun umumnya band atas dan bawah pada indikator ini dapat ditentukan berdasarkan faktor penambahan dan pengurangan dari nilai band tengah. Tentunya dengan standar peraturan yang ada. Sehingga jika volatilitas meningkat dan menurun, jarak di antara band pun mengikuti.

Dapat disimpulkan, jika jarak harga semakin dekat ke band atas, maka aset yang dimiliki kemungkinan semakin dekat pada kondisi overbought. Namun sebaliknya, semakin dekat harga ke band bawah, akan dekat pula ke kondisi oversold.

Kemungkinan besar harga akan tetap di dalam band, tetapi pada kesempatan yang tak diduga-duga mungkin saja dapat menembus di atas atau di bawahnya. Meskipun hal ini bukanlah pertanda jual atau beli, tapi tetap dapat menjadi indikasi dari kondisi pasar secara ekstrem.

Prinsip penting lain dari indikator Bollinger Bands ini disebut dengan “squeeze”. Istilah ini mengacu pada periode volatilitas yang rendah. Karena saat band tengah dekat satu dengan lainnya, dapat menjadi indikasi pada potensi volatilitas di masa depan. Sebaliknya, apabila band terletak jauh dari yang lainnya, periode volatilitas mengalami penurunan mungkin dapat terjadi.

Memaksimalkan Indikator Analisis Teknikal dengan Tepat

Meski indikator analisis teknikal terbilang mumpuni serta memudahkan para trader dan investor, tidak akan maksimal jika penggunaannya tidak dilakukan secara tepat. Maka, cara terbaik untuk memaksimalkan Indikator Analisis Teknikal paling populer tersebut, salah satunya dengan tidak pernah lelah untuk melatih diri hingga mempelajari strategi baru.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *